Ulang Tahun Pak Anto

Udara pedesaan yang segar dan sejuk. Burung-burung kecil bernyayian dengan merdu. Ku tarik selimutku lebih panjang agar menutupi badanku yang menggigil kedinginan. Tiba-tiba Bunda datang dan langsung membuka kaca jendela kamarku, angin semilir mulai memasuki setiap sudut kamarku. “ Tata, ayo bangun sudah jam setengah lima, nih!” ajak Bunda. “ Hem,” Tata menguap lebar.

“Selamat Pagi Bunda, Tata berangkat dulu!” salam Tata kepada Bunda. “ Hati-hati,ya!” ucap Bunda. Tata berjalan menuju gerbang depan rumahnya, “ Ayo!” ajak Fania, kakak Tata. “ Oke!” Tata mengacungkan jempolnya. Lima belas menit, mobil Tata sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah, SDN Lempuyangwangi, Yogyakarta.

Istirahat pertama, “Oke, teman-teman kita mengadakan iuran buat memperingati ulang tahun Pak Anto, siapa yang setuju?” ajak Pandu, ketua kelas 6a. Semua anak termasuk Tata menggangkat tangan tanda setuju. “ Iuran seikhlasnya paling lambat besok Senin,” tambah Pandu. Anak-anak kelas 6a mulai menyusun strategi, ada yang usul kita membuat Pak Anto jengkel, membuat hiasan mewah, dan lain-lain. Nah, biar adil di adakan voting, ternyata paling banyak adalah usul membuat Pak Anto jengkel. Bel istirahat berbunyi, anak-anak kembali belajar.

Selasa, anak-anak kelas 6a berolahraga, tas-tas mereka harus di taruh di depan kelas karena kelas mereka di gunakan untuk foto ijazah. Giliran anak kelas 6a mereka langsung berganti pakaian seragam rapi. Setelah selesai, mereka berunding hadiah apa yang cocok untuk Pak Anto, uang yang terkumpul Rp 150.000,00 untuk membeli cake Rp 70.000,00 sisanya untuk membeli kado. Tata yang di tugaskan untuk membeli kado.

Hari Rabu, Ulang tahun Pak Anto, Tata, Pandu, Dewi, Fista, Tresti, Thysa, dan Indra menghias cake dengan lilin-lilin kecil di sepanjang tepi cake. Untung pas sekali pelajaran pertama selama dua jam pelajaran Pak Anto. Pelajaran berlangsung, anak-anak mulai gaduh, ada yang lempar-lemparan kertas, bernyanyi-nyanyi. Pak Anto pun marah. Anak-anak kelas 6a semua di suruh berdiri di bawah tiang bendera dengan terik matahari yang panas. “ Aduh, gimana nih?” tanya Pandu. “  Em, mendingan kita ambil cake-nya sekarang,” usul Tata. Tata dan Fista mengambil cake di kantin, Fista yang membawa, ternyata dari belakang Pak Anto mengikuti Tata dan Fista, Fista berbalik ke belakang dan terkejut sehingga cake untuk Pak Anto terjatuh, terlihat dari balik kacamata bening, air mata terbendung di kelopak mata Pak Anto dan mengalir di kanan-kiri pipi beliau. Kami semua ikut menangis tersedu-sedu.

Rahmadani Dewi S [cuii_noxxy @yahoo .co .id]