Teman Baru Nadia

Di sebuah desa yang aman, tinggal lah keluarga yang kaya raya. Bahkan menurut orang-orang keluarga itu adalah keluarga yang sangat beruntung, karena semua penduduk desa kebanyakan rumahnya yang terbuat dari kayu atau bambu. Yach bisa dibilang gubuk. Hanya beberapa orang yang rumahnya dari tembok tapi tidak dicat. Dari keluarga kaya raya itu ada seorang anak tunggal, namanya Nadia. Ia adalah anak yang baik dan jujur. Ia anak yang beruntung karena hidupnya selalu senang, tapi sayangnya ia tidak punya teman. Ia memang sekolah, tapi ia sekolah di rumah dengan seorang guru yang pintar.

Suatu hari… “Ma, Pa, aku boleh tidak sekolah?” pinta Nadia. “Kamu kan sudah sekolah?” kata mama. “Tapi ma… aku mau sekolah seperti orang-orang di sekitar kita ma…” lanjut Nadia. “Sayang, orang-orang di desa  itu sekolahnya di tempat yang tidak nyaman, apa kamu mau?” papa ikut menyahut. “Ya sudah kalau tidak boleh sekolah, tapi aku boleh bermain dengan anak-anak desa?” Tanya Nadia. “Jangan sayang, mereka itu bajunya kotor, penuh kuman, di rumah kan banyak mainan,” kata mama. Padahal mainan Nadia banyaak sekali, kamarnya pun sendiri dan penuh boneka. Ia mengoleksi berbagai boneka kesukaannya. “Mama… papa… boleh ya aku main dengan anak-anak desa?” pinta Nadia. “Ya sudah tapi jangan lama-lama ya?” mama mengalah.

Lalu Nadia keluar. Saat ia bertemu sekelompok anak, Nadia berkata “maaf, kalian sedang main apa? Aku boleh ikut?” tanya Nadia. Anak-anak itu menengok ke arah Nadia dan langsung menyahut, “kami sedang main lompat tali, tuan putri mau ikut main?” tanya mereka. “Ooh jangan panggil aku tuan putri, panggil lah aku Nadia,” kata Nadia. “Tapi bajumu seperti putri,” kata seorang anak. “Boleh saya tahu nama kalian?” tanya Nadia. “Mmm ini namanya Nita, ini Safira, ini Leti, ini Mawar dan aku Santi” kata Santi. “Oooh, boleh aku main?” tanya Nadia. “Silahkan…” kata Nita. “Ayo, sekarang giliran Nadia” kata Leti. “Ooo…hhh, hu..hu..hu..” Nadia menangis. “Waah Nadia kakinya luka, mungkin belum bisa main” kata Leti. “Ke rumahku yuk, biar aku yang mengobati,” kata mawar.

Lalu mereka menggotong Nadia ke rumah Mawar. Lalu kaki Nadia yang luka diberi rendaman air daun sirih, sementara Santi mengambilkan air hangat dan dicampur tiga buah daun. “Nadia, rendaman air sirih ini membuat kuman di lukamu itu mati,” kata Mawar yang kemudian menyiram luka Nadia. “Wah tidak perih ya, kalian pintar sekali membuat obat,” kata Nadia. “Ini untukmu Nadia, teh alami yang membuat tubuhmu kembali segar,” kata Santi. “Kok ada daun sih di tehnya?” tanya Nadia. “Teh ini memang tidak beli, membuat sendiri dari pohon teh,” kata Santi. “Hmm rasanya kok tidak manis?” kata Nadia. “Ya sudah pakai ini, kamu suka teh manis ya?” kata Leti sambil memberikan sesuatu yang panjang. “Apa ini? Dan bagimana bisa tanpa menggunakan gula?” tanya Nadia. “Ini namanya tebu, gula pun terbuat dari tebu seperti ini, membuat pemanis dengan tebu lebih alami lo! Dan caranya kamu masukkan tebu itu kedalam teh yang kau pegang itu,” kata Mawar.

Lalu Nadia memasukkan tebu itu ke dalam teh yang dibuat Santi. “Manis sekali,” kata Nadia. “Bagaimana?” tanya Leti. “Aku merasa sudah sembuh,” kata Nadia. “Yuk kita main lagi di luar,” kata Mawar. “Main di rumahku yuk,” ajak Nadia.

Oleh Aisyah As-Salafiyah (abuaisy1979 @yahoo.com)