Surat Cinta Mama

             “Mama kan bisa jalan-jalan malam harinya,” kata Shasa.

            “Malamnya Mama mengetik dan beristirahat, Sayang..”

            “Yaaahhh… Mama gak beli oleh-oleh buat Shasa dan Nino dong..”

            Mama tergelak mendengarnya. “Kalau yang itu sih, Mama tidak lupa, Sayang..”

            “Asyiiikkk..” Shasa berseru kegirangan.

            “Shasa sendiri bagaimana?” Mama balik bertanya. “Selama Mama tinggal, pernah terlambat bangun tidak? Lupa mengerjakan PR? Lupa membuat tugas?”

            Sekarang giliran Shasa yang tergelak mendengar pertanyaan Mama. “Nggak dong, Ma,” jawab Shasa. “Kan ada surat cinta dari Mama. Shasa tempel di dekat meja belajar.”

            “Kalau tidak ada surat cinta dari mama, kira-kira bagaimana ya?” Mama bertanya menggoda.

            Shasa tersipu mendengarnya. “Sepertinya sih tidak akan berjalan semulus tiga hari kemarin.”

             Mama dan Shasa tergelak bersamaan. Tiga hari yang lalu, sebelum berangkat ke Bandara, Mama memberikan sebuah amplop berukuran folio kepada Shasa. Mulanya Shasa mengira isi amplop itu adalah majalah atau poster Greyson Chance sebagai kompensasi karena Mama akan meninggalkan Shasa selama tiga hari. Ternyata isinya adalah jadwal harian Shasa. Apa saja yang harus Shasa lakukan. Pukul berapa hal itu harus dikerjakan.

05.00 Bangun Tidur, Mandi, Sholat Subuh

05.45 Sarapan dan siap-siap berangkat sekolah

06.15 Jemputan datang

16.00 Tiba di rumah dari sekolah, mandi, Sholat Ashar, istirahat

18.30 makan malam

19.00 mengerjakan PR dan tugas, menyiapkan buku untuk pelajaran esok hari

21.00 tidur

             Setiap kali selesai mengerjakan satu hal yang ada di ‘surat cinta mama’, Shasa akan mencoretnya dengan pulpen berwarna merah. Mama membuat ‘surat cinta’ untuk masing-masing hari selama mama pergi. Hanya sedikit perbedaannya. Hari Jumat ini, misalnya, Shasa pulang cepat pukul 11 sehingga jam istirahat siangnya lebih panjang. Namun pukul empat sore nanti, Shasa ada jadwal mengaji.

            “Terima kasih ya, Ma, untuk surat cintanya,” Shasa berkata sambil setengah tersipu. Eh.. anu.. Shasa berencana akan membuat jadwal harian seperti itu selama seminggu, Ma.”

            “Nahh.. Itu baru anak mama,” Mama mengacungkan jempolnya. “Tenang rasanya Mama meninggalkan Shasa.”

            Shasa yang baru saja melangkah ke dapur sambil membawa piring bekas ia makan menghentikan langkahnya. Ekspresi wajahnya terlihat kaget. “Loh… Memangnya Mama mau pergi kemana?”

            “Mama mau ke kamar dan beristirahat,” jawab Mama sambil menggendong Nino.

            Shasa tertawa mendengarnya. “Ikuuuuutttt…”

Erlita Pratiwi <erlitapratiwi @cbn .net .id>