Surat Cinta Mama

Shasa mengusap peluh yang menitik di dahinya. Siang ini udara terasa panas luar biasa. Matahari bersinar dengan garang. Angin seolah enggan bertiup. Sesekali debu jalanan berterbangan bersamaan dengan kendaraan yang melintas. Penyejuk udara di dalam mobil yang Shasa tumpangi seolah tak berfungsi.

            Ketika mobil berhenti di depan rumah, Shasa membuka pintu mobil dengan bersemangat.

            “Terima kasih, Tante,” ucapnya. Tante Herlin yang mengemudikan mobil membalas ucapan Shasa sambil tersenyum.

            Shasa bergegas membuka pintu pagar. Dengan tak sabar, ia masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang tembus ke dapur dan langsung menuju ruang makan.

            “Mamaaaaa…,” teriaknya dengan gembira. Dihampirinya mama yang sedang duduk di salah satu kursi sambil memangku Nino, adik Shasa. Dipeluknya mama dari arah belakang.

            “Aduh.. Anak Mama.. Pulang sekolah bukannya mengucapkan salam kok malah teriak-teriak seperti itu..”

             “Shasa kan kangen, Ma,” rajuk Shasa. “Mama juga pasti kangen kan sama Shasa?”

            Mama tergelak mendengar kata-kata Shasa. “Tentu saja sayang.. Sekarang Shasa makan dulu sana!” perintah Mama.

            Dengan patuh Shasa mengambil piring dan menyendok satu demi satu hidangan yang ada di atas meja. Setelah mencuci tangan, Shasa duduk dan mulai memasukkan suap demi suap makanan yang ada di piringnya ke dalam mulut. Nasi, tumis sawi putih, telur balado dan ikan bandeng presto yang digoreng. Makannya sambil ditemani mama. Uhh… Mantaaabb!!!

            Tiba-tiba gerakan tangan Shasa terhenti. “Eh, Mama sudah makan?”

            “Sudah, Sayang..”

            “Senang ya, Ma, jalan-jalan di Yogya tiga hari?” Pertanyaan Shasa meluncur diantara gerakan mulutnya yang sibuk bekerja.

            “Huss.. Mama ke Yoga bukan jalan-jalan tapi bekerja,” bantah Mama. “Mama harus mengumpulkan bahan untuk buku Mama. Mama perlu melihat langsung dan mewawancarai beberapa orang.”