Perawat Dadakan

Shasa duduk bersila di ujung tempat tidurnya. Wajahnya terlihat serius. Tangan kanannya bergerak-gerak diatas selembar kertas putih yang ada di atas alas kayu. Tak lama kemudian tangannya berhenti bergerak. Dipandanginya wajah yang tergambar di kertas.

 

“Kok tidak mirip dengan mama, ya?” gumamnya. Diambilnya karet penghapus kemudian dihapusnya beberapa bagian dari gambar itu. Pinsil di tangannya kembali bergerak-gerak berusaha menyempurnakan gambarnya.

 

“Hoeekk.. Hoeekk..”

Shasa mengangkat kepalanya. Suara apa itu?

“Hoeekk.. Hoeekk..”

 

Suara itu kembali terdengar. Sepertinya itu suara orang sedang muntah. Arahnya dari kamar mandi yang letaknya bersebelahan dengan kamar Shasa. Disingkirkannya kertas dihadapannya. Bergegas Shasa keluar dari kamar. Sore ini hanya ada mama dan dirinya di rumah. Papa belum pulang dari kantor. Berarti yang sedang muntah-muntah di kamar mandi itu.. Mama!

 

“Maaa..” Shasa mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada jawaban. Dengan cemas, Shasa mengulangi ketukannya dengan lebih keras.

 

“Mamaaaa…” tanpa sadar Shasa setengah menjerit. Rasa takut melanda hatinya. Aduhh.. kenapa mama tidak menjawab panggilannya? Diputarnya pegangan pintu kamar mandi. Terkunci! Aduhh.. Bagaimana ini? Bagaimana kalau mama pingsan?

 

“Mamaaaa..” Kali ini Shasa benar-benar menjerit. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Shasa benar-benar ketakutan. Digedor-gedornya pintu kamar mandi. Airmatanya sudah hampir menetes ketika pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka. Mama berdiri disana dengan wajah pucat dan basah.

 

“M..a.. Ma.. Mama kenapa?” Shasa bertanya terbata-bata. Mama tidak menjawab, hanya memegangi perutnya. “Maag mama kambuh ya?” tanya Shasa lagi teringat kalau mamanya punya penyakit maag. Kadang-kadang kalau penyakit maag mama kambuh, mama suka muntah-muntah.

 

Mama melangkah keluar dari kamar mandi. Shasa meraih tangan mama. Duuhh… tangan mama kok dingin sekali? Dituntunnya mama ke kamar.

 

“Mama pusing ya?” tanyanya. Mama menganggukkan kepalanya kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

 

Dengan sigap Shasa menarik selimut yang ada di ujung tempat tidur mama. Diselimutinya tubuh mama kemudian Shasa tertegun. Setelah diselimuti kemudian harus bagaimana?

 

Otaknya berputar cepat. Oiyaaa.. Minyak kayu putih dan obat maag! Shasa melompat dari tempat tidur mama. Setengah berlari ia menuju tempat obat. Dibawanya minyak kayu putih dan obat maag ke kamar mama. Tak lupa segelas air hangat.

 

“Ma, minum obat maag dulu ya?” katanya. Dilihatnya mama membuka matanya.

 

“Nanti saja,” jawab mama lemah.

 

Bagaimana mama ini. Kalau Shasa sakit, Shasa harus minum obat tapi kalau mama yang sakit kenapa minum obatnya nanti saja? tanya Shasa dalam hati.

 

“Kalau begitu, perutnya dibalurin minyak kayu putih saja, ya, Ma?” Kata Shasa menirukan gaya mama kalau sedang membujuk dirinya.

“Nanti saja,” jawab mama lagi.

 

Uhhh.. Minum obat, nanti saja, minyak kayu putih, nanti saja, bagaimana sih mama ini? Gerutu Shasa. Tentu saja Shasa cuma berani menggerutu dalam hati.

 

“Lehernya saja yang dibalurkan minyak kayu putih. Mau ya, Ma?” Shasa masih berusaha membujuk.

 

Untungnya kali ini mama menganggukkan kepalanya. Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, Shasa membalurkan minyak kayu putih ke leher mama.

 

“Mama mau minum teh hangat?” tawarnya.

 

Mama membuka matanya dan menatap Shasa heran. “Memangnya Shasa bisa membuatkan teh?”

 

“Bisa dong,” jawab Shasa cepat. Masa’ membuat teh manis hangat saja tidak bisa sih, kata Shasa dalam hati.

 

Bergegas Shasa menuju dapur. Sesampainya di dapur, langkahnya terhenti. Mama menyimpan teh dan gula di lemari yang ada di bagian atas. Bagaimana Shasa bisa membuka lemari yang tinggi itu?

 

Shasa menjentikkan jarinya. Ditariknya kursi dari ruang makan. Dengan hati-hati, Shasa naik ke atas kursi. Diturunkannya kotak teh dan toples tempat menyimpan gula. Diambilnya cangkir lengkap dengan piring alasnya. Dengan hati-hati, Shasa menekan tombol dispenser. Lohh.. kok air panasnya tidak bisa keluar?

 

Shasa memperhatikan tombol dispenser itu. Ooo.. baru Shasa ingat kalau tombol air panas itu ada kuncinya. Jadi kuncinya harus dibuka dulu baru air panasnya bisa keluar. Nahh.. sekarang sudah beres. Setelah itu, dituangkannya satu sendok kecil gula. Dengan hati-hati diaduknya teh hangat buatannya dan dibawanya ke kamar.

 

“Ini, Ma, tehnya diminum dulu,” kata Shasa.

 

Dilihatnya mama menatap tidak percaya ke cangkir yang dibawa Shasa.

“Aduhh.. anak mama pintar sekali,” puji mama. Shasa tersenyum bangga. Shasa gitu loh, katanya dalam hati.

 

Mama menyeruput tehnya. Kelihatan nikmat sekali. “Enak loh, teh buatan Shasa,” puji mama lagi.

 

Pintu kamar terbuka. Papa berdiri disana. Heran melihat mama yang sedang minum teh hangat di tempat tidur, gelas berisi air, minyak kayu putih dan obat maag yang ada di meja kecil disisi tempat tidur.

 

“Ada apa ini?” tanya papa.

“Mama sakit, Pa,” lapor Shasa. Diceritakannya kejadian tadi. Mama melengkapi ceritanya sambil tersenyum simpul.

“Hebat dong anak papa,” puji papa setelah Shasa selesai bercerita. “Sudah bisa merawat mama.”

“Kita bawa mama ke dokter saja yuk, Pa,” usul Shasa. “Nanti kan bisa dikasih obat sama dokter.”

“Mama bukan sedang sakit maag kok,” papa menenangkan sambil tersenyum.

“Lohh.. kok tadi muntah-muntah?” tanya Shasa heran.

“Mama muntah-muntah bukan karena sakit maag tapi karena sebentar lagi Shasa akan punya adik.”

 

Kedua mata Shasa terbelalak. “HAH?! Punya adik?! Maksud papa.. mama sedang.. hamil?”

Papa tersenyum lebar. Diciumnya pipi Shasa. “Iya, di perut mama ada adik Shasa.”

Shasa hanya bisa menatap papa sambil bengong. Punya adik?!

 

 

Erlita Pratiwi
erlitapratiwi @cbn .net .id