Pelangi untuk Mia

Anna juga ikut menangis. Padahal mereka sudah berjuang bersama untuk lomba nanti, tapi Mia tidak bisa ikut.
“Mia, lebih baik aku juga gak ikut lomba. Gak adil kalau cuma aku yang ikut,” kata Anna.

Tapi Mia langsung menjawab, “Jangan Anna, kamu harus tetap ikut! Kamu harus mewakili kita berdua untuk menang!” Sambil menghapus air matanya, Mia menyemangati Anna.

“Baiklah. Kita berdoa semoga menang ya! Dan semoga tangan Mia cepat sembuh,” jawab Anna, juga sambil menghapus air matanya.

Akhirnya hari yang dinantikan tiba. Bersama dengan Pak Ferdi dan orang tuanya, Anna pergi ke tempat lomba, lengkap dengan peralatan menggambarnya.

Sekitar jam tiga sore, telepon rumah Mia berdering dan Mia segera mengangkatnya.

“Halo Anna? Bagaimana hasilnya?” Tanya Mia di telepon.
Suara Anna diseberang sana menjawab, “Mia! Ayo tebak!”

Mia dengan tidak sabar segera menyahut, “Anna pasti menang!”
Anna hanya tertawa dan menjawab, “Kita berdua menang Mia! Kan kamu yang bilang, aku mewakili kamu juga?”

Mia mengangguk sambil tersenyum senang, lupa kalau Anna tidak bisa melihatnya.

Artikel perlombaan menggambar tersebut dipasang di majalah dinding sekolah. Saat melihatnya, Mia menyadari sesuatu dan segera menarik Anna ke tempat artikel itu dipasang.

“Anna, kok gambarmu beda dengan yang sudah kita latih? Bukannya kamu seharusnya menggambar liburan di pantai?” Mia menunjuk foto pada artikel tersebut.

“Gambar ini tetap sesuai dengan tema kok!” Jawab Anna tersenyum riang.
“Tapi apa hubungannya pelangi dengan tema Harapanku?” Mia berkerut bingung.

“Harapanku saat itu, semoga hujan di hati Mia bisa segera digantikan oleh pelangi,” Anna menjelaskan dengan malu-malu.

Mia sangat terharu dan segera memeluk Anna, “Anna, kamu sahabat Mia yang terbaik! Setiap hujan, aku akan teringat gambar pelangi Anna!”

Anna menepuk-nepuk pundak Mia dengan gembira. Bersama-sama mereka kembali ke ruang kelas. Saat ini, hujan yang turun di hati Mia telah hilang dan digantikan dengan pelangi yang sangat indah. Pelangi harapan yang membuat Mia akan terus berjuang mencapai cita-cita.

Cerpen anak orisinil karya Manda Ratihdewi (mandaratihdewi @gmail .com)