Pelangi untuk Mia

Hari ini Mia sangat bersemangat. Dia telah menyelesaikan tugas melukis yang diberikan minggu lalu.

Mia juga tidak sabar melihat hasil karya Anna. Anna adalah teman dekat dan juga saingan menggambar Mia di kelas enam.

“Anna! Lihat gambarmu donk!” Mia menghampiri Anna dengan bersemangat saat melihatnya masuk kelas.
Anna hanya tersenyum dan menjawab, “Nanti waktu pelajaran menggambar!”

Kesukaan Mia dan Anna yang sama membuat mereka semakin akrab. Sejak mengenal Anna, Mia semakin rajin berlatih agar dapat menyaingi kemampuan menggambar Anna.

Pada akhir semester, Pak Ferdi Guru Seni Melukis mengutus Mia dan Anna untuk mengikuti perlombaan menggambar se-Ibukota. Mereka sangat senang. Baru kali ini mereka mengikuti tingkat Ibukota.

Dengan bersemangat, mereka memikirkan apa yang akan mereka gambar nanti, sesuai dengan tema yang diberikan, yaitu “Harapanku”. Setiap hari mereka berlatih.

“Yah.. hujan! Mia bawa payung? Aku lupa,” seru Anna pada suatu hari. Anna dan Mia baru saja hendak pulang dari sekolah, saat hujan turun deras.

“Payung istimewa pasti selalu kubawa!” Mia mengeluarkan payung tembus pandang kesayangannya.

Tak lama setelah Mia mengantarkan Anna ke rumahnya, Mia kaget mendengar bunyi klakson mobil yang lewat dengan kencang dan terjatuh.

“Pelan-pelan donk kalau menyetir!” teriak Mia dengan kesal. Mia mengambil payungnya kembali, namun berteriak kesakitan saat merasakan sakit di tangan kanannya.

“Aduh! Sakit sekali! Pasti terkilir waktu jatuh tadi!” Mia segera memegang payung dengan tangan kirinya dan bergegas pulang.

Esok harinya, Mia tidak masuk sekolah. Setelah pulang sekolah, Anna langsung pergi ke rumah Mia. Anna mendapat kabar kalau tangan Mia terkilir dan membutuhkan waktu seminggu lebih untuk sembuh.

Saat melihat Anna masuk, Mia langsung menangis sedih.
“Anna, bagaimana ini. Padahal lomba dua hari lagi,” Mia berbisik di sela-sela tangisnya.