Nessa dan Peri Salju

Syuut…!! Peri Salju turun ke bumi untuk melaksanakan tugasnya sebagai Peri Salju atas perintah Ratu Bidadari. Peri Salju adalah peri yang manis dan baik hati. Dari tongkatnya yang berbentuk bintang bisa mengeluarkan apa saja.Terbuat dari perak. Semua peri memiliki tongkat seperti itu. Yang lebih istimewa adalah tongkat Ratu Bidadari, terbuat dari campuran batu mulia seprti : emas, intan, perak, berlian, platina, dll.

Peri Salju yang mungil terbang ke Negeri Hazel untuk menurunkan salju. Sambil mengayunkan tongkatnya, ia berkata, “Turunlah salju… turunlah salju..”. Tongkat ajaib itu langsung bersinar dan turunlah salju yang lebat! Seketika cuaca di negeri Hazel menjadi sangat dingin.

“Nah, sekarang tugasku telah selesai. Aku mau pulang ke negeri awan kembali!”. Katanya. Baru saja ia mulai mengepakkan sayapnya, tiba-tiba ia mendengar suara tangis gadis kecil yang halus. Peri Salju menghentikan kepakkan sayapnya. Ia menghampiri gadis itu.

“Siapa namamu? Mengapa kamu menangis?” Tanyanya. “Aku Nessa. Aku menangis karena kedinginan. Hiks..hiks..”Jawab Nessa sambi melingkarkan tangannya ke kakinya. Badannya yang kecil hanya memakai kaus dan rok berkain tipis.

“Mengapa kamu tidak pulang ke rumahmu dan mengganti bajumu yang tipis itu dengan sweater yang tebal?” Tanya Peri Salju.

“Aku anak miskin. Aku hanya punya baju yang kupakai ini. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Aku tinggal sendirian. Aku tinggal di emperan toko..,hiks.. hiks..”

Peri Salju tertegun mendengar penjelasan Nessa. Gadis sekecil itu sudah harus tinggal sendirian. Peri Salju iba melihatnya. Karena tak tega, Peri Salju segera mengayunkan tongkatnya. Dan… Criing! Baju Nessa yang tipis, kumuh, dan penuh tambalan itu berubah menjadi sweater tebal yang hangat, serta di belakang Nessa sudah terlihat gubuk kecil.

“Tinggallah di gubuk itu! Di dalamnya sudah ada kulkas kecil yang berisi makanan dan minuman lezat yang tak akan pernah habis! Juga ada lemari pakaian berisi pakaian untukmu!” ucap Peri Salju sambil terbang ke atas dan sekmakin lama tidak terlihat.

“Ah, tunggu dulu!” cegah Nessa. “Terima kasih banyak! Aku tak akan pernah melupakanmu!”

Suha Azka Sabila ([email protected] .co .id)