Monyet Makan Manggis

“Hai…ayo kita kejar kijang itu. Paling, dia tidak jauh dari sini!” ajak pamannya. Tapi, pemuda itu tetap di tempatnya. Memperhatikan ulah si monyet. Dia pun tak jadi menembak monyet tersebut. Akhirnya, dia ditinggalkan oleh pamannya. “Aku akan mengejar kijang itu! Kamu tunggu saja di sini,” kata pamannya.

Ulah monyet tersebut telah membuatnya terheran-heran. Dalam perjalanan pulang dengan pamannya, si pemuda memberanikan diri bertanya tentang apa yang dilihatnya, “Paman, kenapa monyet itu selalu membuang buah manggis manis yang dia petik. Padahal, baru digigitnya sebentar. Dan sebiji pun buah manisnya belum dia rasakan?”

Si paman tersenyum mendengar pertanyaan keponakannya. “Itulah mengapa orang bijak mengatakan: Jadi manusia jangan seperti monyet makan manggis,” jelas pamannya. “Itu adalah gambaran bagi seseorang yang mudah bosan dan menyerah ketika bertemu sedikit halangan dan cobaan pada sesuatu hal yang dia geluti. Padahal, sebenarnya, di balik itu semua terdapat kesuksesan yang menjanjikan. Manusia dengan karakter seperti itu, tidak akan pernah mengetahui kebaikan yang terkandung dalam setiap persoalan hidup. Persis seperti si monyet yang membuang manggis yang baru sedikit digigitnya. Karena kulit manggis pahit, dia segera membuang buah manggis itu. Padahal, di dalamnya ada buah yang manis rasanya.”

Sepanjang perjalanan pulang itu, Si pemuda hanya diam. Dia menyerap nasihat pamannya dengan penuh perhatian. Dia merasa nasihat pamannya memang benar. “Aku tidak ingin menjadi seperti monyet itu!” tekadnya dalam hati. “Aku harus bangkit dari keterpurukan ini untuk menyongsong kesuksesan hidup.”

Bilif Abduh

Sleman, 24 Juli 2011

Caxwiet @yahoo. co.id