Monyet Makan Manggis

Sang Paman hanya bisa memandangi keponakannya dengan geleng-geleng kepala. “Parah benar anak ini,” bisiknya dalam hati. “Bagimana sudah hilang capeknya? Yuk, kita berjalan lagi!”

Baru beberapa langkah kaki tiba-tiba, “Ssssst…!” bisik Sang Paman pada pemuda tersebut sambil menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya, “Tenang…tenang….!”

“Ada apa paman?” tanya pemuda itu dengan berbisik pula.

“Kamu lihat di sana! Dibalik semak-semak itu.”

“Semak yang mana paman? Yang mana?

“Itu…tu…yang di sebelah kiri pohon besar itu! Kamu lihat?”

“Ya, paman,” jawabnya.

“Ada apa?”

“Seekor kijang.”

“Betul sekali!” ujar Sang Paman. “Sekarang kamu arahkan senapanmu dan tembaklah kijang itu! Kamu siap?” kata pamannya dengan suara yang nyaris tak terdengar karena terlalu lirih. Takut kalau-kalau kijang itu mendengarnya dan lari.

“Siap paman!”

Pemuda itu mulai membidikkan ujung senapannya ke arah kijang di balik semak itu ketika tiba-tiba, “Ciiit….ciiit…ciiiit….,” tepat di atas kepalanya. Pada sebuah dahan pohon manggis, dua ekor monyet sedang bertarung sengit memperebutkan kepemilikan atas pohon itu. Monyet yang lebih besar itu pun menang dan berhasil mengusir monyet satunya.

Suara berisik dua ekor monyet itu telah membuat kijang buruannya berlari. Hilanglah kini kesempatan emas untuk mendapatkannya. “Sialan!” umpatnya, “Dasar monyet!”

Karena kesal, pemuda itu memutuskan untuk menembak monyet yang tengah asyik bergelayutan kesana-kemari di dahan pohon manggis untuk memilih-milih buahnya. Namun, ada hal ganjil menurutnya, ketika dia perhatikan bahwa monyet tersebut selalu membuang buah manggis yang dia petik setelah baru digigitnya sedikit.

“Satu…dua….tiga….,” pemuda itu menghitung buah yang dilempar monyet itu, “Empat…lima…enam…..”