Lima Ekor Anak Kucing

“Ya sudah. Sekarang kalian semua tidur saja, biar ibu yang menjaga Koko.”

Besoknya. Bu kucing dan anak-anaknya kecuali Koko pergi mencari makan seperti biasa. Namun mereka tidak menemukan satu ekor tikus pun. Mereka jadi sangat kelaparan.

“Dimana Kuku?” tanya Bu kucing pada ketiga anaknya.

“Aku tidak tahu Bu.” Jawab Kaka. “Bukannya tadi denganmu Keke?” lanjutnya.

“Iya, tapi tadi kita berpisah ketika pergi dari dapur.”

Bu kucing khawatir kalau Keke mencuri makanan di dapur rumah Eza. Kalau benar terjadi, maka akan dibuang ke hutan oleh Eza.

“Bu! Aku bawa makanan!” teriak Kuku gembira.

“Dari mana makanan itu Kuku?” tanya Bu kucing dengan nada keras dan cemas.

“Aku ambil di lemari makan Eza.” jawab Kuku ketakutan.

“Ibu sudah bilang, jangan mengambil makanan di rumah ini. Soalnya kalau sampai Eza atau keluarganya tahu, nanti kita akan di buang ke hutan. Sekarang kembalikan ikan itu Kuku!”

“Tapi kita kan lapar bu?” ucap kuku memelas.

“Nanti kita cari makan di pasar saja.” kata Bu kucing.

Tapi semua sudah terlambat. Eza sudah mengetahui kalau ikannya telah dicuri kucing-kucing itu. Semua kucing dimasukan ke dalam karung. Bu kucing dan anak-anaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka di bawa ke hutan dan di buang.

Satu persatu kucing itu keluar dari karung. ”1,2,3,4..?” Bu kucing menghitung anaknya. Ternyata cuma ada 4 ekor anak kucing. Lalu dicari lagi dalam karung, tapi tetap tidak ada. Ternyata ia ingat kalau Koko yang masih sakit masih berada di rumah Eza.

“Anak-anaku, kita harus kembali ke rumah mencari Koko.”

“Tapi kan rumahnya jauh sekali Bu.” ujar Kiki.

“Tidak apa-apa, nanti kita bisa naik kendaraan saat di jalan raya. Ayo kita berangkat sekarang Nak!” ajak Bu kucing.

Mereka segera pergi ke rumah kembali meski sangat jauh. Untungnya ada mobil bak yang lewat, sehingga mereka loncat dan ikut bersama mobil bak itu menuju rumah Eza. Sayang sekali pintu rumah itu terkunci. Kaka, Kiki, Kuku dan Keke masuk lewat jendela. Bu kucing tak bisa masuk karena tak cukup jendelanya.

“Aduuh!” teriak Kuku karena ekornya terjepit jendela.

“Husttt! jangan berisik.” kata Kaka. “Kita harus berpencar. Aku dan Kiki ke gudang, Keke dan Kuku Ke dapur.”

Mereka mencari kesetiap sudut ruangan tetapi tak menemukan Koko juga. Kemudian terdengar suara dari kamar Eza.

Ngeong, ngeong…!

Ternyata Koko di bawa ke kamar Eza karena merasa kasihan mendengar suara Koko yang sendirian di gudang. Keempat anak kucing itupun menddekati Koko. Eza sadar kalau kucing juga tak bisa pisah dengan keluarganya. Akhirnya Eza memutuskan membuatkan rumah kucing dan memberi makan setiap hari. Bu kucing dan kelima anaknya merasa senang sekali karena mereka sekarang berkumpul semua.

Hore hore hore !!! teriak semua kucing tertawa riang.

Karya: Lukman Hakim [loq_haq9 @yahoo.co.id]