Lima Ekor Anak Kucing

Ngeong…! Suara Kucing itu pelan. Ia baru saja melahirkan lima ekor anak laki-laki yang sangat lucu-lucu sekali. Bulunya berwarna-warni, ada yang belang abu-abu, orange, putih, hitam dan emas. Anak-anaknya diberi nama Kaka, Kuku, Kiki, Keke, Koko.

Mereka tinggal di dalam gudang rumah Eza. Ibu kucing sedang menyusui kelima anaknya yang lucu-lucu itu.

“Bu, aku lapar.” kata Kaka.

“Kita juga lapar bu.” sahut keempat adik Kaka.

“Sabar ya nak, sakarang masih sore.” Jawab Bu Kucing.

“Memangnya kenapa bu?” Tanya Kiki anak ke-3.

“ Soalnya tikus-tikus masih sulit ibu tangkap, karena mereka sangat cepat dan lincah larinya. Kalian minum susu ibu saja dulu.”

Malam pun datang. Bu kucing sudah siap memburu tikus untuk kelima pandawa anaknya. Langkah demi langkah Bu bucing berjalan, pelan sekali. Sambil menengok kanan kirinya barang kali ada tikus yang muncul. Bu kucing masuk ke lemari bekas yang sudah terbuka. Ternyata ada 2 ekor tikus. Dengan cakar yang kuat dan taring yang tajam, 2 tikus langsung mati seketika. Satu untuk anaknya dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.

“Hore…asyik…ibu bawa makanan.” teriak kelima anaknya.

“Jangan berebut ya.” ucap Bu Kucing. Mereka makan dengan lahap. Setelah selesai makan mereka langsung tidur.

Setelah seminggu, sekarang anak-anaknya ingin berlatih mencari makanan sendiri. Koko si bungsu juga berlatih berburu, ia mendapatkan tikus yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Terkaman Koko belum sekuat ibunya, gigitannya juga belum kuat. Hal ini membuat tikus itu bisa lepas, bahkan ia menyerang balik Koko.

Ngik..ngik..ngik ! Koko kesakitan. Tikus itu menggigit lehernya. Untung saja keempat saudaranya si Kaka, Kiki, Kuku dan Keke melihatnya.

“Koko!” teriak saudaranya khawatir.

Kuku mencoba melepaskan gigitan tikus itu. Sedang Keke mengigit dan menarik kaki tikus. Kiki dan Kaka menarik adiknya yang sudah kesakitan.

“Kamu tak apa-apa Ko?” tanya Kiki.

“Leherku sakit sekali.” jawabnya.

Leher Koko berdarah. Ia sangat lemas. Kemudian Koko dibawa ke rumahnya (gudang). Bu Kucing kaget dan sedih melihat Koko yang terluka. Ia membalut luka dilehernya.

“Maafkan ibu, serharusnya ibu saja yang berburu mencari makan.”

“Ini bukan salah ibu. Lain kali kita harus lebih hati-hati dalam berburu.” ujar Kaka.

“Betul apa kata Kaka.” sahut Keke dan Kuku.