Impian Olive

Olive adalah gadis kecil berusia 8 tahun, terlahir di sebuah keluarga berkecukupan dan kaya raya membuat Olive merasa disisihkan dan tidak disayang oleh kedua orang tuanya karena padatnya aktivitas dan kesibukan dari kedua orang tuanya. Selama ini Olive diasuh dan dijaga oleh seorang bibi yang menganggap Olive seperti anaknya sendiri.

Tuhh bibi lihat kan, papa dan mama hanya mementingkan dirinya sendiri, rajuk Olive suatu ketika kepada bibi pengasuhnya. Sang pengasuh berusaha menghibur dan menenangkan anak majikannya tersebut.

Non Olive harus banyak sabar, kan papa dan mama bekerja keras cari uang demi memenuhi kebutuhan non Olive juga. Non Olive tidak boleh marah-marah apalagi sampai ngambek sama papa dan mama. Ucapan-ucapan sederhana yang sangat bijak dari bibi lah yang dapat membuat Olive tenang.

Suatu ketika Olive pulang sekolah membawa kabar gembira, dia terpilih mewakili sekolahnya untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat sekolah dasar di sekolahnya. Dengan antusias Olive menceritakan kepada orang tuanya prestasi yang membanggakan tersebut. Orang tuanya menyambut bahagia dan bangga terhadap prestasi yang dicapai oleh Olivia, akan tetapi sangat disayangkan mereka tidak dapat mendampingi Olive di olimpiade tersebut.

Mama sama papa udah gak sayang lagi sama Olive. Olive kan juga mau seperti teman-teman yang lain, papa sama mama hadir saat Olive ikut olimpiade nanti. Berikut kalimat protes yang keluar dari mulut Olive. Kemarahan Olive sudah tidak dapat dibendung lagi, bahkan Olive sudah tidak mau lagi mendengar penjelasan papa dan mamanya. Olive berlari masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu keras-keras.

Olimpiade matematika memang masih tiga bulan lagi, tapi tampak Olive kurang bersemangat dan bergairah hari itu mengikuti latihan olimpiade matematika. Wajahnya yang memucat membuat para guru pengajar dan kepala sekolah cemas, ditambah lagi badan Olive demam. Segera Olive dibawa ke klinik terdekat, dan bisa dipastikan Olive terkena sakit DBD. Dokter menganjurkan Olive diopname guna observasi, pihak sekolah langsung menghubungi keluarga Olive. Dari ujung telp hanya suara bibi yang dengan gelisah dan panik menerima dan menjawab telp dari guru Olive.