Adikku Tersayang

“Habis.. Rina itu lucu banget sih..” kata Shasa. Ia tak dapat menahan tawanya melihat Rara yang cemberut hingga pipinya menggembung. Di ujung tangga langkah mereka terhenti. Seorang anak kecil berdiri di pinggir aula sekolah, sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka.

“Rinaaaa…,” panggil Shasa sambil balas melambai dengan semangat.

“Kok malah kamu yang dadah-dadah sama Rina sih? Rina kan manggil aku bukan kamu,” kata Rara heran.

“Biarin,” jawab Shasa sambil berjalan menyongsong Rina. “Kamu kan lagi sebel sama Rina.”

Hanya sebentar saja Rina menyambut uluran tangan Shasa. Selanjutnya ia mengembangkan tangannya dan memeluk Rara yang sudah berjongkok dihadapannya. Dua kecupan pun mendarat di kedua pipi Rara.

“Kakak Shasa dicium juga dong..” kata Shasa.

Rina tersipu dan menggelengkan kepalanya. Tangannya yang kecil mengusap pipi Rara.

“Enak ya, Ra, punya adik..” Shasa berkata sambil tersenyum simpul.

“Iya.. iyaaaaa..” kata Rara sambil kemudian mencium Rina.

“Jadi.. gak sebel lagi kan?” ledek Shasa.

“Uhh.. kamu ini meledek terus,” dengan gemas Rara menggelitik Shasa yang segera lari menghindar. Kalau Rara sudah menggelitik, lebih baik kabuuuurr…

Karya Erlita Pratiwi [erlitapratiwi @ cbn . net . id]