1 Kisah & Pembelajaran tentang Mengatasi Anak Tantrum

1 Kisah & Pembelajaran tentang Mengatasi Anak Tantrum

Mendengar ocehan orang lain itu memang kadang-kadang bikin panas kuping. Namun hidup ini bukan buat menyenangkan orang lain.

Kitalah yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri, betul?

Ketika anak saya yang sulung sedang tantrum, menangis, merengek, lalu menjatuhkan dirinya sendiri ke tanah. Saya hanya melihatnya sembari menunggunya, menawarkan air minum untuknya, sambil sesekali bertanya:

  • “Sudah belum?”
  • “Sudah mau bangun?”
  • “Oke daddy tunggu ya”

Sedangkan istri saya senyum-senyum sembari mengambil foto. Lucunya, orang yang lalu lalang di sekitar kami seolah menyindir, nyinyir, berbicara sok tahu:

  • “Itu anak di tolongin dulu kek!”
  • “Duh kasian, minta apa sih? Mainan? Diturutin dong, kok dibiarin gitu sih…”
  • “Kejam nih orang, anaknya dibiarin gitu aja, malah di foto-foto pula..”
  • …dan semacamnya

 

Kami tetap tenang, sambil menunggu anak kami yang berusia hampir 3 tahun ini bangkit sendiri. Dalam proses ini jangan ada kontak mata dengan si anak, jangan di tinggal, tetap Awasi.

 

Mengapa?

Karena tantrum itu artinya si anak sedang belajar mengendalikan diri, agar dia mampu mengelola emosi. Menuruti kemauannya tidak akan menyelsaikan masalah, karena menjadi tidak jelas, akan jadi serba salah semuanya.

Ini juga mengajarkan tidak semua yang diinginkannya di dunia bisa teralisasi, juga bukan karena ortunya rezeki itu ada. Setelah dia bangkit, barulah sejajarkan posisi tubuh dengannya, minta dia mengatakan dengan jelas apa keinginannya. Untunglah saat itu di gembira loka zoo yang terik, coba kalau di mall, bisa lama adegan seperti ini.

Alhamdulillah dengan penanganan tantrum yang benar, anak kami tidak terlalu sering begini, dia telah belajar bahwa tidak semua keinginannya bisa terwujud saat itu juga, dia belajar untuk mengendalikan emosi, dia sadar bukan begitu caranya meminta sesuatu. Jadi jika kelak anak Anda tantrum, biarkan saja sambil diawasi, tenangkan saja, sembari tanyakan apakah sudah mau menyelsaikan rengekannya.

 

Mau Yang Lebih Cepat Lagi Penyelesaiannya?

Anda ikutan gulung – gulung di lantai, jamin si anak batal tantrum. Hehehe, serius lho ini, kalau Anda cukup punya mental boleh saja lakukan yang ini. Terimakasih kepada status FB Bapak Reed Wanadi yang semoga bisa jadi bermanfaat untuk kita semua.

Apakah Screen Time Baik Untuk Bayi dan Balita?

Apakah Screen Time Baik Untuk Bayi dan Balita?

Di jaman yang serba modern ini, barang-barang yang dimiliki oleh setiap keluarga juga serba modern. Jadi, tidak jarang kita melihat anak bayi atau balita yang sudah bermain tablet atau smartphone, karena memang benda-benda tersebut selalu ada di sekitar mereka setiap hari.

Para orang tua juga banyak yang membiarkan anak mereka bermain dengan gadget mereka.

Alasannya sederhana: Biasanya bayi dan balita akan asyik bermain dengan gadget tersebut dan tidak rewel. Menurut beberapa ahli, sebaiknya anak yang umurnya masih di bawah 2 tahun tidak diperbolehkan untuk bermain dengan perangkat elektronik. Ini karena bayi dan balita sebaiknya melakukan banyak aktivitas fisik, dan bukan hanya duduk atau tiduran sambil bermain gadget.

Jika mereka sibuk bermain smartphone atau tablet, waktu mereka akan tersita, padahal waktu itu bisa mereka gunakan untuk merangkak, belajar berjalan, dan menjelajahi lingkungan sekitarnya di rumah.

Dari segi psikologis, anak yang umurnya kurang dari 2 tahun dan sudah terlalu sering bermain smartphone atau tablet punya kecenderungan untuk kurang berani dalam bersosialisasi.

Ini karena mereka biasanya sibuk dengan perangkat elektronik, dan bukan bermain dengan orang tua atau teman mereka.

Screen Time (Waktu Bermain Tablet, Smartphone, Video Game, dsb) Yang Diperbolehkan:

  • Jika anda bertanya kepada para ahli, jawaban mereka untuk anak yang umurnya di bawah dua tahun adalah ZERO screen time, atau tidak boleh sama sekali. Tapi, jika memang anda ingin mengijinkan anak anda untuk bermain dengan tablet atau smartphone, batasi hanya selama 15 atau 20 menit saja. Jangan sampai anda menganggap gadget anda sebagai “senjata andalan” untuk membuat anak anda diam.
  • Untuk anak yang umurnya sudah 2 tahun atau lebih, lamanya screen time yang dianggap aman oleh para ahli adalah sekitar 1 sampai 2 jam saja setiap harinya.
  • Ini berlaku tidak hanya untuk smartphone dan tablet, tapi juga untuk komputer, televisi, dan yang lainnya. Kegiatan dan permainan fisik jauh lebih baik untuk anak-anak, dibandingkan memainkan games atau menonton televisi.