Hantu Berwajah Putih?

Hantu Berwajah Putih?

Hujan baru saja berhenti turun. Udara malam terasa dingin menusuk tulang. Untuk kesekian kalinya Shasa melihat ke arah jalan di muka rumah. Mama belum juga pulang. Setengah jam yang lalu mama menelepon. Ia masih terjebak macet di jalan. Di musim hujan seperti sekarang ini, di mana-mana memang sering terjadi macet.

Telepon rumah berbunyi. Dilihatnya Tante Ria yang menemaninya di rumah bergegas mengangkat gagang telepon. Shasa kembali melihat keluar. Duhhh.. kapan sih mama pulang?

“Sabar Sha.. Nanti juga mama pulang.” Tante Ria yang sudah menyelesaikan percakapannya di telepon berusaha menghibur Shasa.

“Tadi itu telepon dari mama ya?” tanya Shasa sambil memalingkan pandangannya.

“Bukan. Tadi itu telepon dari Om Iwan. Katanya dia gak bisa menelepon ke rumahnya. Jadi dia minta tolong kita ke rumahnya dan memberitahu istrinya. Siapa tahu letak gagang telepon di rumah mereka tidak pas,” kata Tante Ria.

Shasa melongokkan kepalanya. Rumah Om Iwan letaknya berhadapan dengan rumah Shasa. Dilihatnya pintu rumah Om Iwan tertutup.

“Mungkin Tante Puspa sedang pergi. Tuhh.. pintunya tertutup,” kata Shasa mengemukakan pikirannya. Tante Puspa itu nama istri Om Iwan.

“.. tapi itu mobilnya ada,” bantah Tante Ria.

“Siapa tahu perginya gak naik mobil. Lagian kok Om Iwan gak nelepon ke handphone Tante Puspa?” tanya Shasa.

“Tadi juga Tante Ria sudah bertanya seperti itu tapi kata Om Iwan handphone Tante Puspa sedang diperbaiki.” Tante Ria menjelaskan.

“Bagaimana kalau Shasa pergi ke rumah Om Iwan, nge-cek apakah Tante Puspa ada di rumah sekaligus menyampaikan pesan Om Iwan?”

Untung Ada Alif

Untung Ada Alif

Siang itu cuaca mendung. Mobil jemputan yang sebelumnya penuh, sekarang terasa tak lagi sesak. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan ramai. Mobil-mobil yang berisi anak sekolah lalu lalang. Rombongan anak sekolah yang bersepeda tampak melaju di sisi jalan. Mendadak terasa ada yang tidak beres dengan mobil jemputan yang tengah melaju.

“Ada apa, Wo?” tanya Rara ketika mobil akhirnya berhenti di pinggir jalan. Seperti teman-temannya, Rara memanggil supir mobil jemputan dengan sebutan ‘Uwo’.

“Uwo juga belum tahu,” jawab Uwo sambil turun dari mobil. Dengan seksama diperiksanya keempat ban mobil.

Yah...ban nya kempes...“Waahhh.. ban mobilnya kempes! Mungkin terkena paku,” kata Uwo. “Ayo kalian semua turun dulu dari mobil!”

Dengan patuh Rara, Shasa dan Alif turun dari mobil. Hanya tinggal mereka bertiga yang belum diantar pulang oleh Uwo.

 

“Kita duduk di situ saja, yuk!” ajak Rara sambil menunjuk bangku kayu yang ada di depan warung rokok yang kebetulan sedang tutup.

 

Alif berjalan mendahului. “Untung ban mobilnya kempes di sini. Coba kalau kempesnya di dekat sungai…”

 

 

“Yaa… kita duduknya di pinggir sungai lah sambil main air.” Rara melanjutkan kata-kata Alif.

 

Shasa tertawa terkikik-kikik mendengarnya. Duduk dipinggir sungai sambil main air? Ada-ada saja Rara ini! Kalau kecebur ke dalam sungai kemudian terseret arus, bagaimana?

 

Baru saja mereka duduk, mendung yang sejak tadi menghiasi langit berubah menjadi titik-titik air yang turun membasahi bumi. Rara, Shasa dan Alif berpandangan. Waduuuhhh.. kasihan Uwo yang sedang mengganti ban mobil.

 

Payung...Tanpa diduga, Rara berlari ke arah mobil. Beberapa saat kemudian tampak ia memayungi Uwo dengan payung yang ia ambil dari dalam mobil. Kelihatannya Uwo sempat menolak namun akhirnya bisa juga Rara memaksa Uwo agar bersedia dipayungi. Untunglah gerimis yang turun tidak bertambah deras. Bisa-bisa Uwo dan Rara basah kuyup karena payung yang digunakan Rara tidak terlalu besar.

 

Selama beberapa saat Alif dan Shasa terdiam. Baru saja Shasa akan mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba Alif berlari ke arah Rara. Dari tempatnya duduk, Shasa melihat Alif bicara dengan Rara. Mereka sempat tarik-tarikan payung sebelum akhirnya Rara menyerah. Sambil menutupi kepalanya dengan saputangan ia berlari ke tempat Shasa duduk.

 

Shasa menyambutnya dengan senyuman. “Aku sampai kaget waktu lihat kamu lari. Kirain kamu mau mau masuk ke dalam mobil. Gak taunya mau mayungin Uwo ya?” komentar Shasa.

 

“Habis, aku kasihan sama Uwo. Uwo kan sudah tua. Kalau besok Uwo sakit, siapa yang antar jemput kita, hayo?” Rara menjelaskan.

 

“Iya juga ya..,” gumam Shasa.

 

“Eh, aku gak nyangka Alif yang kelihatannya sombong ternyata baik hati,” Rara melanjutkan kata-katanya dengan setengah berbisik.

 

“Makanya jangan suka berprasangka buruk! Kalau bahasa Inggrisnya sih, Don’t judge a book by its cover,” kata Shasa sambil mengingat-ingat pelajaran bahasa Inggris yang dipelajarinya di tempat kursus. “Untung ada Alif! Jadi ada yang menggantikan kamu memayungi Uwo.”

 

Rara hanya nyengir mendengarnya. Berdua mereka memperhatikan Uwo yang masih sibuk dengan ban mobil dan Alif yang memayunginya. Ternyata perlu waktu yang tidak sebentar untuk mengganti ban mobil.

 

 

“Kasihan Alif,” celetuk Shasa. “Pasti tangannya pegal!”

 

“Cieeee.. segitu perhatiannya sama Alif,” ledek Rara. “Tuh, Uwo sudah selesai.”

 

Alif yang melihat Rara dan Shasa bermaksud lari ke mobil buru-buru berteriak, “Tunggu di situ! Nanti aku jemput!”

 

Rara dan Shasa berpandangan.

 

“Eh, Sha, tadi kamu dikasih coklat kan oleh Jasmine?” Sudah dimakan belum?” tanya Rara.

 

“Belum. Memangnya kenapa?” Shasa balik bertanya.

 

“Mana coklatnya?” Rara menadahkan tangannya.

 

“Bukannya tadi kamu juga dikasih coklat oleh Jasmine?”

 

“Iya, tapi sudah kumakan. Lagipula aku minta coklat kamu bukan buat aku,” kata Rara.

 

“Terus buat siapa?” tanya Shasa heran.

 

“Buat Alif,” bisik Rara sambil mengedipkan matanya.

 

Baru saja Shasa membuka mulutnya hendak mengajukan pertanyaan lebih lanjut, Alif sudah datang menghampiri mereka.

 

“Ayo ke mobil!” ajak Alif sambil memayungi Rara dan Shasa.

 

“Eh, jadi serasa tuan puteri nih dipayungi segala,” komentar Rara. Shasa tertawa terkikik-kikik mendengarnya. Alif hanya tersenyum.

 

“Untung ada Alif! Uwo jadi ada yang mayungin, ” kata Uwo ketika mereka semua sudah berada di dalam mobil dan mobil pun sudah melaju.

 

“Betul itu! Kalau gak ada Alif, gak ada yang mayungin Rara dan Shasa dari warung ke mobil,” Rara menyambung kalimat Uwo.

 

“Alif gitu lohh..!” Shasa ikut menimpali sambil kembali terkikik-kikik melihat ekspresi Alif yang tersipu-sipu.

 

Sebelum Alif turun di depan rumahnya, Rara memberikan coklat yang tadi dimintanya dari Shasa.

 

Coklat untuk Alif...“Eh, Lif, ini buat kamu,” kata Rara.

 

Alif tampak terkejut. “Lohh.. kok tumben Rara bagi-bagi coklat. Dalam rangka apa nih?” tanya Alif ingin tahu.

 

Tanpa dikomando, serentak Uwo, Rara dan Shasa menjawab, “… dalam rangka.. Untung ada Alif! Ha.. ha.. ha..”

 

 

 

 

 

 

 

BSD, revised on January 17, 2009

 

 

Erlita Pratiwi [ [email protected] cbn .net .id ]

Rara Ingin Jadi Gajah

Rara membolak-balik setumpuk kertas hasil ulangan umum semester ganjil yang tadi dibagikan ibu guru di dalam kelas. Matematika: 89, Listening Bahasa Inggris: 75, IPA: 79.5, Agama Islam aspek Ibadah: 74, Kesehatan: 88. Waduhhh… Dibandingkan dengan saat Rara duduk di kelas dua, nilai-nilainya kali ini merosot jauh.

 

Dengan muram, Rara keluar dari kamarnya menuju kamar ibu. Siang hari seperti ini, biasanya ibu sedang beristirahat sambil membaca buku.

 

“Tok..tok..tok..,” Rara mengetuk pintu kamar ibu. Ibu memang mengajarkan Rara untuk mengetuk pintu dan tidak masuk ke dalam kamar sebelum diijinkan.

 

“Ada apa, Ra?” tanya ibu sambil menandai halaman buku yang sedang dibacanya. Bukannya menjawab, Rara malah menyodorkan tumpukan kertas yang dibawanya kemudian duduk di samping ibu. Dilihatnya ibu memperhatikan nilai-nilainya. Tak lama kemudian ibu mengembalikan kertas-kertas itu tanpa komentar.

 

“Ibu gak marah?” tanya Rara heran.

 

“Kenapa harus marah?” ibu balik bertanya.

 

“Nilai-nilai Rara turun, Bu.. Habis, waktu ulangan umum kemarin itu, Rara kan sedang sakit,” jawab Rara setengah merajuk. “Kalau nanti Ayah tahu, kira-kira Ayah marah gak ya?”

 

“Hmmm… Memangnya kalau ayah atau ibu marah, nilai-nilai Rara bisa berubah jadi bagus?” tanya ibu.

 

Rara tersipu mendengarnya. Benar juga yang dikatakan ibu.

 

“Eh, Rara mau jadi gajah, gak?” Mata Rara terbelalak mendengar pertanyaan ibu yang aneh itu. Duhh.. Ibu ini bagaimana sih? Masa’ mentang-mentang Rara doyan makan lantas ditawari jadi gajah?

 

“Maksud ibu bukan gajah yang ada di kebun binatang tapi gajah pintar yang bernama Ganesha,” jelas ibu lebih lanjut melihat kebingungan Rara.

 

“Ganesha itu siapa sih, Bu?” tanya Rara ingin tahu.

 

Ibu menyalakan laptopnya. Tak lama kemudian sebuah gambar muncul di layar laptop. Berkepala gajah dengan gading sebelah kanan yang patah, berbadan manusia dan bertangan empat.

 

“Ini yang namanya Ganesha,” ibu menjelaskan. “Ganesha adalah putra Dewa Siwa dan Dewi Durga. Belalai Ganesha yang menjulur masuk ke dalam mangkok yang berada di tangan kiri depan melambangkan Ganesha yang haus ilmu pengetahuan. Mangkok itu sendiri berfungsi untuk menampung pengetahuan Ilmu pengetahuan itu bukan hanya diperoleh dari sekolah. Bisa dari majalah, surat kabar, televisi. Jadiiii… banyak-banyaklah mencari pengetahuan. Tangan kanan Ganesha di bagian depan memegang gading yang dipatahkan. Gading itu digunakan Ganesha untuk menulis. Maknanya: dalam menuntut ilmu itu perlu pengorbanan. Kemudian ilmu harus dicatat supaya tidak mudah lupa. Naahh.. Tangan kiri yang berada di belakang memegang kapak yangpernah digunakan oleh Ganesha untuk berperang melawan raksasa. Dalam menuntut ilmu, yang harus diperangi bukan raksasa tetapi kemalasan. Sementara tangan kanan yang ada di belakang memegang tasbih. Melambangkan hubungan dengan Sang Maha Pencipta. Jadi, dalam menuntut ilmu tidak boleh lupa berdoa.” Ibu menjelaskan panjang lebar.

 

“Ganesha ini kemudian dijadikan lambang perguruan tinggi Institut Teknologi Bandung.” Ibu mengakhiri penjelasannya.

 

Rara mengangguk-anggukkan kepalanya. “Wahhh.. kalau begitu, Rara mau deh, Bu, jadi gajah,” katanya. “Eh, maksud Rara, Rara pengen meniru Ganesha ini,” sambungnya lagi. “Rajin mencari dan menampung ilmu pengetahuan, rajin mencatatnya, berperang melawan kemalasan dan tidak lupa berdoa.”

 

“Itu baru Rara,” kata ibu sambil mengacungkan dua ibu jarinya.

 

“Siapa dulu dong ibunya,” jawab Rara. “Ibu gitu loh..”

 

“Semester depan nanti nilainya gak turun lagi dong…,” kata ibu.

 

Rara tampak berfikir. “Eh, nnggg.. nnggg.. turun gak ya? Mudah-mudahan gak turun deh..” Rara berkata sambil melangkah keluar dari kamar ibu. “Rara ingin seperti Ganeshaaaaa…. Hidup Ganesha!”

 

Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. Rara.. Rara..

 

BSD, 6 Januari 2009

Erlita Pratiwi [ [email protected] cbn .net .id ]

 

 

Usman dan Hasan

Disebuah desa kecil, terdapat keluarga yang sangat bahagia. Di rumah tersebut dihuni oleh seorang Ayah, Ibu dan seorang anak laki-laki yang bernama Hasan. Hasan termasuk  anak yang pintar disekolahnya. Selain pintar, Ia juga anak yang baik. Hasan selalu membantu orang tua dan juga teman-temannya sehingga  Ia mempunyai banyak teman. Hasan beumur 8 tahun dan kini  Ia duduk dibangku kelas 3, di SD Negeri Neglasari.

Salah  satu teman Hasan bernama Usman. Usman sangat berbeda dengan Hasan. Ia anak yang kurang pandai di sekolah dan Ia sangat nakal, sehingga Ia tidak mempunyai teman. Usman satu kelas dengan Hasan yaitu di SD Negeri Neglasari.

Di sekolah Hasan berteman dengan siapa saja. Hasan tidak pernah memilih-milih teman, sehingga Ia mempunyai banyak teman. Akan tetapi, berbeda dengan Usman.
Usman tidak mau berteman dengan orang yang tidak disukainya. Ia selalu memilih teman yang pintar saja, sehingga Ia tidak mempunyai teman seperti Hasan.

Hasan selalu menjadi juara kelas disekolahnya karena Ia selalu belajar dan berdoa kepada Allah agar semua cita-citanya tercapai dan Ia tidak pernah sombong. Hasan selalu membantu temannya jika ada yang kesulitan dalam pelajaran.

Berbeda dengan Hasan, Usman kurang pandai di sekolah. Ia tidak pernah mendapat nilai yang bagus, karena Ia tidak pernah belajar dan Ia elalu lupa  untuk berdoa kepada Allah. Usman tidak pernah bertanya  kepada guru atapun teman apabila mengalalami kesulitan dalam pelajaran, sehingga Ia tidak pernah berprestasi seperti Hasan.

Suatu hari, Ibu Guru memberikan tugas menggambar peta Indonesia untuk pelajaran Ilmu Pengethuan Sosial. Tugas itu dikerjakan berkelompok. Dan kebetulan Usman dan Hasan satu kelompok. Usman dan Hasan sepakat untuk kerja kelompok di rumah Hasan seusai pulang sekolah. Setelah usai sekolah Usman pulang terlebih dahulu ke rumahnya untuk meminta izin kepada orang tuanya.

Sesampainya dirumah, Usman langsung membuka pintu tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu dan Ia tidak langsung mengganti seragam sekolahnya. Usman langsung meminta izin kepada orang tuanya untuk kerja kelompok dirumah Hasan. Kebetulan jarak rumah Usman dan Hasan tiak terlalu jauh, jadi orang tuanya mengizinkan.Berbeda dengan Usman. Sesampainya Di rumah, Hasan tidak pernah lupa mengucapkan salam dan langsung mencuim tangan orang tuanya. Setelah itu Ia mengganti seragam sekolahnya dan meminta izin  kepada orang tuanya untuk bekerja kelompok dirumahnnya.

Sesampainya di rumah Hasan, Usman bukan mengerjakan tugas tetapi malah bermain-main. Usman memainkan mobil-mobilan milik Hasan. Mobil-mobilan itu sangat bagus, sehingga Ia ingin memiliki mobil-mobilan itu. Lalu usman mencuri mobil-moobilan itu dan Ia langsung pulang dengan tergesa-gesa tanpa mengerjakan tugas terlebih dahulu. Buku Usman tertinggal di rumah Hasan, karena Usman pulang sangat tergesa-gesa. Lalu Hasan mengantarkan buku milik Usman itu ke rumahnya.

Sesampainya dirumah Usman, Hasan melihat mobil-mobilannya sedang dimainkan oleh Usman. Kemudian Hasan bertanya kepada Usman, apakah mobil-mobilan itu milik Hasan?. Dan Ia tidak mengaku bahwa mainan itu milik Hasan. Tiba-tiba Usman berlari keluar rumah dengan sangat cepat sambil membawa mobil-mobilan itu. Ketika sedang berlari, Usman terjatuh sampai kakinya berdarah. Ia tidak kuat menahan tangis karena kakinya luar bisasa sakit, sampai-sampai Ia tidak bisa berjalan sendiri.  Namun  Hasan tetap menolong Usman, walaupun Usman sudah mencuri mobil-mobilan milik Hasan.

Pada keesokan harinya Usman tidak masuk sekolah karena kakinya masih sakit. Ia mendapat hukuman dari Tuhan akibat kenakalannya. Sedangkan Hasan mendapat kebahagiaan dari  Tuhan karena Hasan anak  yang baik. Hasan mendapatkan hadiah mobil-mobilan yang baru dari Ibu Guru karena gambar peta Indonesia buatan Hasan paling bagus.

 

Karya: Nenden Rizky Amelia <ndencuantique @yahoo. com>

Bantal Guling Shasa

Bantal Guling Shasa

Libur telah tiba..!

Libur telah tiba..!

Horee.. !

Horee.. !

Horee..!

Bagi Shasa, saat liburan itu menyenangkan. Tidak ke sekolah. Tidak mengerjakan PR. Tidak mengerjakan tugas. Bisa main games. Nonton film kartun kesayangan. Main bersama teman. Pokoknya asyiiikk..!

Tambah mengasyikkan lagi bila bisa berlibur mengunjungi tempat-tempat wisata . Apalagi bila tempat yang dikunjungi itu berada di luar kota. Waahh.. ada banyak pengalaman seru yang menanti. Mulai dari perjalanan itu sendiri, mengunjungi obyek wisata sampai menikmati makanan khas daerah setempat.

Naahh.. baru saja papa menyampaikan berita bahwa liburan kali ini papa, mama dan Shasa akan berlibur ke Yogyakarta. Di sana mereka akan mengunjungi Candi Borobudur, Candi Prambanan, Keraton Yogyakarta. Mereka juga akan berwisata alam ke Kaliadem dan wisata agro Salak Pondoh. Shasa melonjak gembira mendengarnya dan spontan menghadiahi papa sebuah kecupan. Namun sejurus kemudian Shasa terdiam.

“Lohh.. ada apa, Sha?” tanya papa heran.

“Nanti kita menginap di hotel ya, Pa?” tanya Shasa.

“Iya,” jawab papa. “Hotelnya bagus loh, Sha. Ada kolam renangnya. Kamarnya juga besar. Shasa gak suka menginap di hotel?”

Sesaat Shasa tampak ragu-ragu sebelum akhirnya berkata, “Suka siiihh.. Tapi Shasa lebih suka bobo di rumah, Pa. Habis, di hotel gak ada bantal gulingnya… Shasa kan gak bisa bobo kalau gak memeluk bantal guling.”

Papa berpandangan dengan mama kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Ihhh… kok malah tertawa sih?” Shasa merajuk. Bibirnya mengerucut. Pipinya yang tembem semakin membulat karenanya.

“Untung kali ini kita ke pergi ke Yogya mengendarai mobil. Jadi bisa bawa bantal guling dari rumah. Coba kalau kita perginya naik pesawat. Wahhh.. apa tidak repot membawa bantal guling?” katapapa menggoda Shasa.

“Eh, iya juga ya..” gumam Shasa sambil merenung.

“Begini saja, kalau sedang jalan-jalan, Shasa bobonya sambil memeluk mama sebagai ganti bantal guling,” kata mama.

“Ihhh… Mama.. ada-ada saja deh,” mendengar kata-kata mama, Shasa kembali cemberut.

“Ya sudah kalau Shasa gak mau, papa saja deh yang memeluk mama.” Papa berkata sambil beranjak dari duduknya.

“Ihhh.. Papa geniiitt..” teriak Shasa sambil tertawa-tawa.

Mulai sekarang Shasa akan berlatih supaya tidak terlalu tergantung pada bantal guling. Benar juga yang dikatakan papa. Akan merepotkan bila bepergian pakai pesawat dan membawa bantal guling.

Karya : Erlita Pratiwi (erlitapratiwi @ cbn. net. id)

Lemper Jepang

Lemper Jepang

Biasanya kalau hari Minggu, Shasa suka bermalas-malasan. Bangun tidurnya sih tetap subuh tetapi setelah itu kembali tidur-tiduran sambil menonton film kartun kesukaannya. Mandi pagi? Wahh.. Mama sampai harus berulangkali menyuruh mandi baru deh Shasa mau mandi.

Hari Minggu ini ada yang berbeda. Pagi-pagi Shasa sudah mandi dan sarapan. Ada apa gerangan?

Ternyata hari ini papa akan mengajak mama dan Shasa ke toko buku. Kata papa, Shasa boleh membeli buku cerita kesukaannya dua buah. Setelah itu mereka akan makan siang di restoran.

Seperti yang dijanjikan, jam sepuluh pagi mereka pergi ke mall.

Toko Buku

“Waahh.. besar sekali toko bukunya,” gumam Shasa terkagum-kagum. Koleksi buku anak-anaknya pun banyak sekali. Beberapa menit kemudian Shasa sudah asyik memilih-milih buku bacaan. Sesekali pandangannya beralih ke deretan rak yang memajang novel dewasa. Hanya untuk memastikan mama ada di sana. Sama seperti dirinya, mama juga tampak asyik memilih-milih buku.

“Habis ini kita mau ke mana, Pa?” tanya Shasa ketika selang satu jam kemudian mereka melangkah keluar dari toko buku.

Sushi

“Papa mau mengajak Shasa makan Sushi,” jawab papa.

sushi“Apaan tuh Sushi?” Shasa kembali bertanya.

“Sushi itu makanan jepang terbuat dari nasi yang digulung dan diberi isi di bagian tengahnya. Ada yang isinya ikan, belut, daging atau yang lainnya.” Mama menjelaskan.

Ooo..” Shasa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Seperti lemper ya, Ma?”

“Iya. Bedanya kalau lemper terbuat dari ketan sementara Sushi terbuat dari nasi. Lemper dibungkus daun pisang sementara beberapa jenis Sushi dibungkus Nori.”

“Nori? Apaan lagi tuh? Kok seperti nama teman Shasa?” Shasa kembali bertanya.

Mama dan papa tertawa mendengarnya. “Nori itu lembaran tipis berwarna hitam terbuat dari rumput laut,” kata mama. Shasa kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.

Di restoran, Shasa memesan Unagi Sushi yaitu Sushi yang berisi potongan belut. Shasa memang suka makan belut.

“Gimana, Shasa suka gak makan Sushi?” tanya papa setelah mereka selesai bersantap.

Shasa menggelengkan kepalanya.

“Lohh.. kenapa?” tanya papa lagi.

“Habis makannya harus pakai sumpit sih,” jawab Shasa. “Shasa kan gak bisa pakai sumpit.”

Mama dan papa tertawa mendengarnya.

“Kalau Shasa gak bisa pakai sumpit kan bisa pakai sendok dan garpu,” kata papa.

Lemper

“Iya sih.. tapi Shasa lebih suka lemper Indonesia dibanding lemper Jepang. Pokoknya lemper Indonesia itu mak nyuuusss..” Shasa menjawab sambil mengacungkan dua jempol ke arah papa. “Lagian Shasa kan cinta makanan Indonesia.”

“Iya deehh..” kata mama dan papa serempak sambil tertawa.

Betul juga apa yang dikatakan Shasa. Kalau bukan kita yang mencintai makanan Indonesia, siapa lagi?

 

Karya : Erlita Pratiwi (erlitapratiwi @ cbn. net. id)

Kadal-kadal di Dinding

Shasa kembali melihat jam dinding di ruang tamu. Duuhh.. kok belum datang juga ya? Tak sabar rasanya Shasa ingin segera berjumpa dengan Tante Eni, Om Lars dan Jennifer. Tante Eni adalah sepupu mama Shasa. Setelah menikah dengan Om Lars, ia menetap di Jerman, negara asal Om Lars. Sedangkan Jennifer adalah anak mereka. Ini adalah kali pertama Jennifer mengunjungi Indonesia.

Sebuah taksi berhenti di depan rumah Shasa. Seorang perempuan turun dari taksi. Di belakangnya, tampak seorang gadis kecil berambut pirang. Sosok lelaki tinggi besar berkulit putih dengan rambut pirang menutup pintu taksi di sisi yang lain.

“Maa.. Tante Eni datang..”, teriak Shasa. Mama, papa dan Shasa bergegas ke luar. Tante Eni memeluk mama. Maklumlah, sudah tiga tahun mereka tak saling berjumpa.

“Wahh.. Shasa sudah besar ya,” kata Tante Eni.

Shasa tersenyum malu-malu sambil mencium tangan Tante Eni. Matanya segera beralih menatap Jennifer yang berdiri di hadapannya. Ternyata Jennifer lebih cantik dari yang Shasa lihat di foto. Kulitnya putih. Rambutnya ikal dan berwarna pirang. Matanya coklat terang.

“Hallo, apa kabar?” kata Jennifer sambil menyalami Shasa. Ternyata Jennifer bisa berbahasa Indonesia!

Bersama-sama mereka menuju taman di samping rumah. Di atas meja kecil di dekat kolam ikan, mama sudah menyiapkan penganan dan es kelapa muda yang bisa dinikmati bersama sambil mengobrol.

Berdua dengan Jennifer, Shasa asyik bermain boneka. Bahasa yang digunakan tentu saja bahasa Indonesia diselingi dengan bahasa Inggris. Sesekali kalau ada yang tidak dimengerti, Shasa bertanya kepada mama. Sementara kalau Jennifer menemui kesulitan bicara dalam bahasa Indonesia, Tante Eni membantu menerjemahkannya. Ternyata.. Jennifer itu bisa berbahasa Indonesia, Inggris dan Jerman! Menurut cerita Jennifer, ia belajar bahasa Inggris. Sementara di rumah, ia belajar bahasa Indonesia dari mamanya. Wahh.. Shasa jadi malu. Selama ini ia suka malas-malasan kalau disuruh mama les bahasa Inggris.

Tengah mereka asyik bermain, Jennifer minta diantarkan ke kamar mandi. Dengan senang hati, Shasa mengantarkannya. Ketika mereka melewati ruang tamu, kebetulan Jennifer melihat ke arah dinding dan tampak terkejut. Serangkaian kata-kata dalam bahasa Jerman meluncur dari mulutnya. Kemudian ia berbalik dan lari ke luar sambil memanggil Tante Eni, mamanya.

Shasa kebingungan. Ada apa dengan Jennifer? Kenapa ia tampak terkejut? Shasa memandang sekeliling ruang tamu. Tidak terlihat ada yang aneh. Di dinding ruang tamu juga tidak ada yang aneh. Hanya tampak seekor Cicak di dekat foto perkawinan mama dan papa.

Tak lama Jennifer masuk sambil menarik-narik tangan mamanya sementara tangan yang satunya menunjuk-nunjuk ke arah dinding. Om Lars yang berjalan di belakang Tante Eni tampak terbelalak memandang arah yang ditunjuk Jennifer. Kata-kata dalam bahasa Jerman meluncur cepat dari mulutnya. Suasana menjadi ramai. Mama dan papa Shasa saling memandang kebingungan. Tiba-tiba tawa tante Eni meledak. Setelah berhasil meredakan tawanya, tante Eni kemudian menjelaskan bahwa Jennifer dan Om Lars heran melihat Cicak yang ada di dinding.

Oalaahhh.. Ada-ada saja Jennifer dan om Lars ini. Masa’ sih melihat Cicak saja sampai heboh seperti itu, pikir Shasa sambil tersenyum geli. Ternyata menurut tante Eni, di Jerman itu tidak ada Cicak.

“Mommy, Cicaknya dibawa ke Jerman saja,” kata Jennifer. Om Lars mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.

Sekarang giliran Shasa yang terbelalak. Hah??! Cicaknya mau dibawa ke Jerman? Bagaimana cara menangkapnya? Bagaimana pula cara membawanya? Terus bagaimana makanannya? Masa’ sih harus menangkap nyamuk hidup-hidup?

“Aduuhh.. bagaimana ya menerangkan soal Cicak ini?” tanya Tante Eni dengan bingung bercampur geli. “Bahasa Inggrisnya Cicak itu apa ya, Sha?”

Sambil tertawa-tawa Shasa mengangkat bahu tanda tak tahu. “Kalau bahasa Inggrisnya Kadal sih Shasa tahu Tante,” kata Shasa sambil menyebutkan kata Lizard.

Sayangnya kamus Bahasa Indonesia – Inggris yang ada di rumah Shasa sedang dipinjam Kak Nurul, tetangga sebelah rumah Shasa. Jadi mereka tidak bisa mencari tahu bahasa Inggrisnya Cicak.

Dengan susah payah Tante Eni menjelaskan bahwa Cicak itu adalah sejenis kadal. Tidak bisa ditangkap apalagi dibawa ke Jerman.

Mendengar penjelasan Tante Eni, tawa Shasa semakin keras. Duuhh.. Ada-ada saja Tante Eni ini. Kalau Cicak disebut sebagai sejenis kadal, nanti lagu Cicak.. Cicak.. di dinding.. berubah menjadi Kadal.. Kadal.. di dinding.. diam-diam merayap..

Ha-ha-ha..!

 

Karya : Erlita Pratiwi (erlitapratiwi @ cbn. net. id)

Crepes Untuk Mama

Crepes Untuk Mama

CrepesShasa membuka pintu kamarnya dengan perlahan dan melongokkan kepalanya. Sepi. Biasanya siang begini mama sedang istirahat di kamarnya. Shasa bergegas menuju telepon yang ada di ruang keluarga. Sempat Shasa merasa ragu-ragu tapi kemudian dengan cepat jarinya memencet nomor telepon rumah neneknya.

“Halo.. Tante Ria ya?” sapanya dengan gembira ketika mengenali suara tantenya di seberang sana mengucapkan salam. Fiuhhh… Untung Tante Ria sedang tidak bertugas. Tante Ria itu adik perempuan mama yang tinggal di rumah nenek dan bekerja sebagai pramugari. Setelah menjawab salam, Shasa langsung nyerocos panjang lebar mengeluarkan unek-uneknya.

Suara tawa tantenya terdengar tepat setelah ia menyelesaikan ceritanya. “Ihh.. Tante Ria kok malah tertawa sih?” rajuk Shasa. “Besok tugasnya harus dikumpulkan loh.. Terus Shasa harus cerita apa dong tentang profesi mama? Mama kan cuma ibu rumah tangga,” kata Shasa dengan suara pelan. Takut terdengar oleh mama yang ada di kamarnya. “Kok mama gak kerja di kantor sih, tante? Kerja di kantor kan lebih keren..,” lanjut Shasa.

“Eh, mama jadi ibu rumah tangga karena mama sayang Shasa lohh..” kata Tante Ria. Kemudian Tante Ria pun bercerita.

Ternyata dulu mama bekerja di kantor sebagai konsultan pajak. Setelah itu pindah kerja ke perusahaan asing. Sampai akhirnya menikah dan melahirkan Shasa, mama masih bekerja. Ketika mama dan papa Shasa membeli rumah dan tak lagi tinggal di rumah nenek, sebelum ke kantor, mama menitipkan Shasa di rumah nenek. Pulang dari kantor, mama menjemput Shasa baru kemudian pulang ke rumah.

“Terus kenapa mama berhenti bekerja?” tanya Shasa penasaran

“Ceritanya waktu itu Shasa akan disekolahkan di kelompok bermain yang ada di dekat rumah Shasa. Nahh.. karena tidak mungkin meminta nenek menemani Shasa, mama kemudian mencari pengasuh untuk menjaga Shasa selama mama bekerja. Tapiii.. begitu ditinggal mama berangkat ke kantor, kerjaan Shasa hanya menangis dan bolak-balik memanggil-manggil mama. Wahh.. bukan hanya pengasuh Shasa yang bingung tapi mama, papa, nenek, kakek, semua ikut bingung. Akhirnya mama memutuskan berhenti bekerja.”

Shasa meringis mendengar cerita tantenya. Ternyata dirinya yang telah membuat mama sekarang jadi ‘gak keren’.

“Sekarang kalau disuruh memilih, Shasa lebih suka mama ada di rumah atau bekerja?” tanya tantenya. Beberapa saat lamanya Shasa berfikir. Baru saja ia akan menjawab, dilihatnya pintu kamar mama terbuka.

“Eh, tante.. nnggg.. jawabannya jangan sekarang ya? Nanti Shasa nelepon tante lagi deh.. ” setelah mengucapkan salam, dengan terburu-buru Shasa menutup teleponnya

“Telepon dari siapa, Sha?” tanya mama.

“Nnggg.. anu..Ma.. tadi Shasa nelepon Tante Ria,” jawab Shasa sambil bergegas masuk ke kamarnya.

Di kamarnya Shasa mengingat-ingat cerita Tante Ria. Sebenarnya kalau sekarang disuruh memilih, Shasa lebih senang mama ada di rumah. Setiap pagi mama mengantar Shasa sekolah. Mama juga mengantar jemput Shasa ke tempat les. Setiap hari mama selalu memasak makanan yang enak-enak dan membuat penganan untuk Shasa dan papa. Teman-teman mama bahkan suka memesan kue buatan mama. Setiap kali ada pesanan, mama tak lupa menyisihkan untuk Shasa. Bahkan di antara kesibukannya itu, mama masih sempat membuat tulisan atau cerita. Setiap malam, sambil mengetik tulisannya, mama menemani Shasa belajar dan mengerjakan tugas. Kalau Shasa kesulitan, mama selalu siap membantu Shasa.

Dengan semangat, Shasa mulai menulis tentang profesi mama yang bukan pekerja kantoran.

“Apaan nih?” tanya mama heran ketika dua hari kemudian Shasa menyerahkan sebuah bungkusan sepulang sekolah.

“Crepes rasa coklat keju kesukaan mama,” jawab Shasa sambil tersenyum. “Tadi Shasa beli di kantin.”

“Lohh.. kalau uang jajan Shasa dipakai membeli Crepes untuk mama berarti Shasa gak jajan dong..”

Shasa menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. “Itu hadiah dari Shasa, Ma. Dua hari yang lalu, Shasa mendapat tugas menceritakan profesi ibu masing-masing. Tadinya Shasa pikir jadi ibu rumah tangga itu kalah keren dibanding dengan kerja kantoran ternyata Shasa salah.” Shasa kemudian menceritakan pembicaraannya dengan Tante Ria. Ditunjukkannya juga kertas tugas yang sudah dinilai. Tak lupa diceritakan bagaimana teman-teman sekelasnya bertepuk tangan ketika ia selesai membacakan tulisannya di depan kelas.

“Makasih ya, Ma.. Mama sudah mengorbankan pekerjaan mama supaya bisa menemani Shasa di rumah. Shasa sayaaaanng banget sama mama,” kata Shasa sambil memeluk mama.

“Mama juga sayang Shasa,” bisik mama sambil memeluk Shasa.

Karya : Erlita Pratiwi (erlitapratiwi @ cbn. net. id)

Ayah, Si Buruk Rupa

Selama ini aku selalu berhasil melarang Ayah datang ke sekolah: mengantar, menjemput, atau untuk keperluan lain. Tentu saja aku tidak terang-terangan melarang. Aku punya cara supaya Ayah tidak merasa aku larang ke sekolah. Seperti musim pengambilan rapor kemarin dulu, misalnya.

“Ibu saja yang mengambil rapor, Yah. Ayah ‘kan capek,” kataku ketika itu.

“Tapi besok ‘kan Sabtu. Ayah libur, tidak ke mana-mana.”

“Setiap hari Ayah ‘kan kerja, cuma libur hari Sabtu dan Minggu. Jadi, Sabtu dan Minggu jatah Ayah duduk manis di rumah, baca-baca, nonton tivi, atau siram-siram bunga. Tenang saja, Yah. Dijamin, pokoknya raporku keren,” kataku mencoba ‘melarang’ Ayah ke sekolah.

“Oke, deh,” jawab Ayah dengan gayanya yang khas.

“Yes!” aku berteriak –dalam hati, tapi– sambil mengepalkan tangan.

Kadang-kadang aku suka merasa berdosa karena sering menghalang-halangi Ayah ke sekolah. Habis, aku harus bagaimana. Kalau Ayah ke sekolah, semua temanku akan tahu penampilan ayahku tidak cool seperti ayah mereka. Bukan karena tidak bisa berdandan, tapi karena Ayah memang tidak menarik, baik wajah maupun postur tubuhnya. Sudah tidak tampan, kurus pula.

Aku tak habis pikir, bagaimana Ibu yang begitu cantik mau menikah dengan Ayah yang … ah, tidak tega aku menyebutnya. Ayah dan Ibu memang sungguh berbeda. Seperti langit dan comberan, begitu istilah Ayah setiap mengatakan perbedaan dirinya dan Ibu –tentu saja dengan nada bercanda. Langit dan bumi saja sudah jauh, apalagi dibandingkan dengan comberan –yang letaknya tentu lebih rendah dari permukaan bumi.

Kulit Ibu putih, bersih, tidak ada noda sedikit pun. Ibaratnya, kalau Ibu minum kopi, kopinya akan kelihatan meluncur dari mulut ke perut lewat lehernya yang indah itu. Sebaliknya, kulit Ayah hitam. Sudah hitam, banyak pulaunya.