Pohon Jambu Nancy

 

Musim hujan telah tiba, daun-daun Pohon Jambu di depan rumah Nancy mulai berubah coklat dan berguguran.

Angin yang berhembus kencang menjatuhkan daun-daun kering ke tanah. Sudah bertahun-tahun Pohon Jambu hidup di pekarangan rumah Nancy.

Ketika masih kecil, Ayah Nancy membawa Pohon Jambu dari kebun kantor dan menanamnya di pekarangan rumah Nancy. Kala itu Nancy masih belajar berjalan.

Setiap pagi, setelah Nancy mandi, Ayah Nancy mengajak Nancy menyiram Pohon Jambu Kecil, membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh dan kadang-kadang memberikan pupuk di atas tanahnya.

Tahun-tahun berlalu, Pohon Jambu tumbuh menjadi besar. Daun-daunnya bertambah banyak, batangnya bertambah besar, dan diantara ranting-rantingnya mulai muncul bakal bunga.. Pohon Jambu terlihat sangat cantik sekarang.

Jika musim panas sudah datang, burung-burung mampir ke dahannya, membawa rumput-rumput kering untuk membuat sarang. Jika panas sangat menyengat, pejalan kaki berhenti sebentar untuk berteduh di bawahnya. Seringkali Burung Hantu datang di malam hari untuk menemaninya.

Dengan rutin Ayah Nancy memangkas dahan-dahan yang tumbuh liar, merapikan daun-daun Pohon Jambu yang tumbuh rimbun.

5 Sekawan yang Tidak Pernah Terlupakan

Alkisah, pada saat agresi Belanda ke Indonesia, ada 5 sekawan, mereka adalah Udin, Agus, Asep, Wawan dan Made, mereka adalah para pejuang pada saat itu hingga pada suatu saat

“De, siapkan senjata dan surat yang akan dikirim ke Jendral Sudirman” Udin berkata kepada Made “Siap!”

Agus, Asep dan Wawan yang tengah berjaga-jaga di depan persembunyian 5 sekawan, tiba-tiba diserang oleh pasukan Belanda, mereka langsung balas menyerang, tapi jumlah Belanda terlalu banyak jadi membuat mereka masuk ke dalam persembunyian

“Ayo semua, amankan semua barang-barang yang dianggap penting, kita diserang oleh Belanda!” Wawan berkata kepada semua 5 sekawan tersebut, lalu Udin berkata “Lekas pergi sobat, tempat sudah tidak aman!” dibalas oleh semua 5 sekawan “5 sekawan, Pergi!”

Setelah mereka meninggalkan persembunyian, mereka melanjutkan perjalan dengan menyusuri hutan, disana Udin menerangkan kepada 5 sekawan bahwa mereka akan mengantarkan surat kepada Jendral Sudirman “5 sekawan, kita akan mengantarkan surat ini kepada Jendral Sudirman, jika sesuatu menimpa kita harus berpencar dan surat ini harus ada yang memegang, jika berhasil kita akan bertemu di kota Solo, tapi jika salah seorang atau beberapa orang tidak berhasil . . . . ” Asep menjawab ” Biar saya saja yang pegang, saya tahu persis seluk beluk hutan Jawa” Udin pun memberikan surat itu kepada Asep

Beberapa hari melangkah, mereka pun ditemukan oleh pasukan Belanda dan melakukan instruksi dari Udin dengan cepat hingga Belanda tidak bisa menyerang mereka.

Beberapa minggu kemudian, mereka tiba di kota Solo, Udin, Wawan, Made dan Agus menunggu kedatangan Asep, ketika Asep datang, Asep kelihatan bermandikan darah “Sep, kamu kenapa !?” Wawan bertanya sambil menekan darah yang mengalir dari tubuhnya “Aku tak kenapa-napa, cepat berikan surat *uhuk-uhuk* kepada Jendral, !!!” Wawan mengambil dan memberinya kepada Udin

“Cepat, bawa Asep ke ruang perawatan!” kata Wawan, sementara itu, surat diberikan kepada Jendral Sudirman , ia berkata “Aku ingin bertemu prajurit itu” tiba-tiba Wawan menghampiri Jendral Sudirman dan berkata “Asep sudah wafat”

Setelah 40 tahun kemudian, 5 sekawan berkumpul di sebuah kuburan di Solo “Dia sudah mengorbankan nyawanya untuk kita semua dan surat itu, jika surat itu tidak sampai kepada Jendral, pertahanan kita pasti sudah hancur” Udin berkata, mereka pun mendoakan Asep agar arwahnya tenang di sisi-Nya

Tamat

 

Deda Chandra

deda_chandra @yahoo .com

Hantu Televisi

Siang itu sepulang sekolah, Nia langsung menuju rumah Shasa. Mereka akan berlatih percakapan dalam bahasa Inggris. Besok mereka harus mempraktekannya di depan kelas.

Setelah berlatih berulang kali, akhirnya mereka berhasil melakukan percakapan itu dengan benar.

“Aduh… Capeknya..” keluh Nia. Disandarkannya badannya di sofa sambil meluruskan kakinya.

“Sama. Aku juga capek,” kata Shasa. “Paling tidak nanti malam kita bisa sedikit santai. Mudah-mudahan besok kita dapat nilai bagus.”

“Oiya, mumpung tugas sudah selesai, nanti malam aku mau nonton televisi ah,” kata Nia.

“Asyik dong, aku sedang tidak bisa menonton televisi.”

“Loh, kenapa begitu?” tanya Nia.

“Televisiku sedang rusak,” jawab Shasa pendek.

Nia mengerutkan keningnya. Ditatapnya televisi yang ada di hadapan mereka. Masa’ sih? pikirnya tidak percaya. Diambilnya remote televisi kemudian ditekannya sebuah tombol.

“Tuuhh.. nyala.. tadi kamu bilang televisinya rusak.”

“Memang rusak, kok,” jawab Shasa. “Eh, kamu suka jus jambu gak?”

“Suka dong,” jawab Nia cepat.

“Sebentar ya, aku ambilkan.” Shasa bangkit dari duduknya dan beranjak ke arah dapur. Ditinggalkannya Nia yang kini asyik menonton televisi.

Di televisi sedang ditayangkan acara komedi. Sesekali terdengar tawa Nia. Tengah asyik menonton tiba-tiba televisi itu mendadak mati.

Putri Lenggok

Pagi itu hujan turun dengan deras di kerajaan NagariTari. Sebuah negeri yang terkenal dengan seni tari-nya. Negeri itu sedang menanti kelahiran putri Raja.

Di sebuah ruangan besar di dalam istana terdengarlah suara tangis bayi. Seorang bayi perempuan yang cantik telah dilahirkan. Seluruh keluarga istana menyambutnya dengan bergembira. Selama tiga hari, rakyat NagariTari berpesta menyambut kelahiran sang Putri Kerajaan. Bayi itu bernama putri Lenggok.

Suatu ketika keluarga istana dikejutkan dengan sebuah peristiwa.  Seorang dayang mengasuh Putri Lenggok. Ia bernama Dayang Mirah. Ia baru mengetahui kalau Putri Lenggok tidak dapat melihat.  Ia segera memberitahu sang Raja. Raja dan permaisuri menjadi sedih  mendengar berita ini.

Raja berharap putrinya dapat meneruskan tarian keluarga istana. Tarian itu bernama Gita Pusaka Nagari. Raja membayangkan Putri Lenggok menari di ulang tahun putrinya yang ke-17. Sang putri akan menari di ruang tari utama istana. Impiannya kini hanya menjadi mimpi.

Karena Raja merasa malu, Putri Lenggok jarang dibawa berjalan-jalan keliling kerajaan. Bahkan ia tinggal di sebuah ruangan bagian belakang istana. Tempat yang agak tersembunyi sehingga jarang sekali ada yang datang ke sana. Ia tinggal bersama Dayang Mirah. Dayang Mirah sangat sayang dengan Putri Lenggok.

Putri Lenggok pernah menanyakan kenapa ia tinggal di sana. Dayang Mirah tidak pernah memberikan jawaban. Ia berusaha membesarkan hati putri Lenggok. Ia selalu berkata kalau keluarga istana tetap sayang pada sang Putri. Mereka masih tinggal di dalam istana.

 

Si Bundar Ajaib

Ranu duduk termenung di teras rumahnya. Ia tampak sedih dan tak bersemangat. Ayah yang baru pulang kantor pun diacuhkannya. Ibu heran melihat sikap Ranu yang tidak seceria biasanya dan bertanya,

“Kok diam saja, sakit ya? Biasanya kamu selalu ribut minta oleh-oleh setiap ayah pulang dari kantor.”

“Ranu ndak sakit, Bu.”

“Lalu kenapa nak?” tanya ayah sambil duduk di samping Ranu.

“Ranu ingin kembali ke Yogya saja,” jawab Ranu.

“Lho kenapa?” tanya ibu heran.

“Di sini Ranu ndak punya teman. Mau main di halaman rumah juga ndak bisa. Main di luar juga ndak ada lapangan” jawab Ranu dengan wajah muram.

Keluarga Ranu baru satu bulan tinggal di Jakarta. Sebelumnya, mereka tinggal di Yogyakarta. Keluarga Ranu pindah ke Jakarta karena Ayah Ranu pindah tugas ke kantor pusat di Jakarta.

“Hm … mungkin oleh-oleh ayah kali ini bisa membuatmu gembira.” Ayah mengeluarkan sebuah bola basket dari dalam tas kresek hitam.

“Ayah lihat ada lapangan basket di ujung perumahan kita. Kamu bisa bermain-main di sana. Memang lapangan basket itu tidak seluas lapangan bola di samping rumah kita dulu. Namun, setidaknya kamu bisa punya tempat bermain” jelas ayah.

“Tapi Ranu ndak punya teman. Mana enak bermain sendirian.” jawab Ranu kesal.

“Sudah, coba saja main di lapangan basket di sana,” kata ayah menghibur Ranu yang makin cemberut.

Keesokan harinya, Ranu mencoba main di lapangan basket di ujung perumahan. Letaknya hanya berselisih lima rumah dari rumah Ranu.

 

Petualangan Aira

“Halo, selamat pagi!“

Sang mentari menyapa dengan ramah. Sinarnya yang keemasan perlahan-lahan mulai mengelus wajah bumi. Penghuni bumi mulai merasakan kehangatannya.

“Ah…… segarnya pagi ini.” Aira terbangun dari tidurnya dengan wajah berseri –seri.

“Selamat pagi Embuni! Selamat pagi Kupu-kupu“, sapanya dengan ramah.

Aira adalah setetes air. Ia bertengger di atas sehelai daun melati.

“Aira, hari ini kamu lebih cerah dari biasanya,” kata Kupu-kupu.

“Apakah kesedihanmu sudah hilang? Apa obatnya?“ Tanya Embuni.

“Aku tidak bersedih lagi. Hari ini Ibu akan mengajakku untuk melihat dunia dan menunjukkan kepadaku betapa berartinya aku.”

Kemarin, Aira bersedih. Ia merasa tidak berarti. Ia tidak seperti Lebah yang menghasilkan madu.. Ia tidak bisa terbang. Ia juga tidak seperti bunga yang berbau harum. Ia hanyalah setetes air yang akan lenyap bila terkena panas matahari. Hal inilah yang mengganggu pikirannya berhari – hari, sehingga ia selalu nampak murung. Namun, hari ini ia gembira karena ibunya akan mengajaknya memulai petualangan baru.

“Kapan kita mulai berpetualang, Bu?” tanyanya tak sabar kepada Ibunya.

“Sebentar lagi. Kita tunggu sampai sinar matahari mengenai tubuhmu.“ “Tapi Bu, Bukankah tubuh kita bila kena sinar matahari akan lenyap? Lalu…..?”

“Sabarlah! Nanti akan ibu ceritakan“ kata Ibunya dengan senyum penuh arti.

Saat yang dinantikan tiba. Perlahan sinar Sang Surya mulai menyentuh tubuh Aira. Aneh! Tubuhnya terasa sangat ringan!

“Ibu, mengapa tubuhku sangat ringan?“

“Anakku, karena terkena panas tubuh kita berubah bentuk menjadi uap air. Coba rasakan! Tubuhmu ringan bukan?”

“Betul, Bu! Hei, lihat aku terbang! Aku melayang“ Aira berteriak kegirangan. Ia tidak pernah membayangkan bisa terbang seperti kupu-kupu.

“Tubuhmu melayang karena terbawa angin“ Aira merasakan tubuhnya semakin ringan dan melayang. Semakin tinggi dan tinggi.

“Ibu, kita akan kemana?“

“Anakku, kau lihat gumpalan awan putih itu?”

“Yang seperti kapas, Bu? Wow, indah sekali!”

“Mereka adalah sekumpulan saudara-saudaramu. Ke sanalah kita akan bergabung“ Dengan senang hati Aira mengikuti Ibunya bergabung dengan saudara-saudaranya lain. membentuk awan putih. Tak henti-hentinya ia menyanyi.

Kemudian bersama-sama saudaranya yang lain Aira melanjutkan perjalanan. Mereka melayari langit biru, melintasi puncak gunung dan bukit. Dari ketinggian angkasa Aira menyaksikan bumi yang elok mempesona. Sawah menghijau seperti hamparan permadani berlapis berlian yang berkilau. Sungai meliuk –liuk seperti ular. Ketika mereka berada di atas gunung, Aira merasakan gumpalan itu semakin berat. Aira kedinginan karena angin bertiup kencang. Awan berubah menjadi hitam.

“Ibu, aku takut!“

“Tenang, anakku! Sebentar lagi kita akan turun membasahi bumi.”

“Bagaimana caranya?

“ Angin kencang akan menerbangkan kita. Kemudian kita semua akan turun serempak. Manusia menamai kita hujan“ Belum selesai Ibunya berbicara, mereka dengan cepat dan serempak turun di bumi.

“Wow, asyik Bu! Seperti main dengan papan luncur,” Aira tertawa kegirangan. Wajahnya bertambah ceria ketika melihat Pak Tani menyambut kedatangan hujan dengan gembira. Rupanya kedatangan mereka sudah dinantikan. Aira mendengar mereka berkata:

“Hujan turun. Sudah tiba saatnya bagi kita untuk menanam.”

“Ya, dengan turunnya hujan sawah kita tidak kering lagi.”

Aira senang mendengar perkataan itu. Rupanya dirinya dapat menyuburkan tanah Pak Tani.

Perjalanan Aira berlanjut. Kali ini ia tiba di atas rumah yang mungil. Seorang anak perempuan berteriak, “Mama,hujan turun. Tidak lama lagi bunga – bunga kita akan mekar!“ suara itu terdengar ketika Aira berada di atas tanah.

Dengan tersenyum Aira merasakan kegembiraaan anak itu. Sebelum meresap ke dalam tanah sekali lagi ia menatap wajah anak itu. Wajah anak perempuan itu berseri ketika mengamati bunga-bunga di taman yang baru kuncup.

Tidak lama kemudian Aira melewati lorong yang gelap dan lembek.

“Bu, tempat apa ini?“

“Anakku, kita meresap ke dalam tanah. Sebentar lagi kita akan keluar dan menjadi mata air.”

Aira mengikuti rombongan ibunya dengan seribu pertanyaan. Pengalaman apa lagi yang ia alami?

Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya Aira melihat setitik cahaya. Ia dan keluarganya menuju ke arah cahaya itu. Tak lama kemudian mereka menerobos cahaya dan hei.. apakah itu? Aira heran karena setelah keluar dari tanah mereka berkumpul dengan rombongan air lainnya. Mereka sangat banyak dan menempati kolam yang sangat luas dan panjang serta berkelok-kelok.

“Aira, disinilah keluarga kita, keluarga air, bertemu. Ini adalah sungai.”

“Apakah keluarga kita disini semua, Bu? Perjalanan berhenti sampai disini?”

“Tidak, anakku. Keluarga besar kita berpencar. Ada yang di sumur, ada yang di danau dan di tempat lainnya. Mari kita lanjutkan petualangan kita“ Aira melanjutkan petualangannya. Ia menjadi air sungai. Mengalir menuruni punggung gunung. Ia rasakan hawa sejuk pegunungan. Ia rasakan kecipak air akibat gerakan ikan-ikan yang berenang disekitarnya. Ia rasakan kaki-kaki anak kecil yang berenang dan mandi dengan airnya. Ia dengarkan sendau gurau para ibu yang mencuci sayuran di atas permukaannya. Wah, banyak lagi yang ia rasakan dan saksikan! Betapa bahagianya Aira!

“Ibu, aku sangat senang sekarang. Ternyata aku sangat berarti. Banyak orang yang membutuhkan kehadiranku.”

“Syukurlah, anakku. Jadi mulai saat ini janganlah berkecil hati. Sekecil apapun kita, selemah apapun kita, kita masih dapat berguna bagi orang lain, selama kita melakukan tugas kita dengan sungguh-sungguh.“ “Terimakasih, Ibu. Banyak pengalaman dan pelajaran yang kuterima hari ini! “Dengan sukacita Aira melanjutkan perjalanan hidupnya.

Teman – teman ingin bertemu dan berkenalan dengan Aira? Bangunlah pagi-pagi dan temukanlah ia di balik dedaunan! Mungkin ia disana. Atau mungkin ia mengalir dengan riang di sepanjang sungai yang mengalir di belakang rumahmu. Sampaikan salam padanya dan jangan lupa berilah ucapan terimakasih kepadanya karena sudah menghidupi bumi. Berjanjilah untuk tetap menjaga kelestarian alam yang sangat dicintainya. Niscaya, ia akan menyambutmu dengan senyum yang paling cantik. Dan ia merasa berbahagia.

 

Oleh: Marmini Estiningsih [mar_minik @yahoo .com]

Tag:

Hasan dan Kucing Hitam

Pada sebuah desa, tinggallah sebuah keluarga, keluarga Pak Rahmat namanya. Pak Rahmat mempunyai tiga orang anak, yaitu Nida, Hasan, dan Husein. Semua putra pak Rahmat sudah bersekolah. Nida kelas 4 SD, Hasan kelas 2 SD, dan Husein kelas 1 SD. Dari ketiga bersaudara tersebut Hasan mempunyai sifat yang cukup berbeda dari dua saudaranya. Ia suka berbuat usil. Ia mempunyai kebiasaan mengganggu hewan peliharaan tetangga. Setiap kali ia lewat atau berjalan-jalan , dan menemui hewan selalu menggertak dan mengusirnya. “Heyya…! Huss…! Pergi kalian! Jagoan mau lewat!” teriakan Hasan membuat hewan-hewan yang didekatnya lari ketakutan. Saat sedang bermain ia juga suka mengganggu hewan-hewan seperti, kucing atau ayam. Semua hewan di sekitar rumahnya takut dengannya. Hasan pernah dijewer mbok Pinah gara-gara ayam mbok Pinah mati karena jatuh kedalam sumur setelah dikejar-kejar Hasan.

Beberapa hari kemudian, pak Rahmat mengawasi anaknya yang bermain. Hasan bermain di halaman rumah pak Sholeh bersama teman-temannya yaitu Budi, Dodi, dan Tono. Mereka sedang bermain sepakbola. Suara mereka bising, sehingga menganggu tetangga di sekitar rumah pak Sholeh. Ketika sedang bermain, seekor kucing hitam datang melintas di dekat mereka. Tanpa pikir panjang, Hasan segera mengincarnya. Ia menendang bola dengan sekuat tenaga diarahkan ke kucing hitam tersebut.

“Buk!” suara bola sangat keras mengenai kucing hitam tersebut.

“Meoong!” kucing hitam menjerit terkena bola tendangan Hasan. Suaranya melengking kesakitan, dan jatuh terpental berguling-guling di tanah.

“Ha..ha..ha..!Horee..! ” Hasan tertawa merasa puas dengan yang dilakukannya.

Dari jauh pak Rahmat menyaksikan kelakuan anaknya, menggeleng-gelengkan kepala. Akibat ulahnya banyak tanaman yang berada di sekitar rumah pak Sholeh rusak. Bahkan suatu ketika tendangan bolanya mengenai gerobak penjual bakso yang berakibat nampan, beberapa mangkuk pecah berantakan jatuh ke tanah. Hasan dan teman-temannya langsung lari sekencang-kencangnya tanpa memperdulikan teriakan penjual bakso.

“Ya Allah, berikan kesabaran padaku, dan berikan hidayah pada anak-anak tersebut. Amin!” gumam penjual bakso dalam hati. Begitulah sifat dan kelakuan Hasan setiap hari. Meskipun kedua orang tuanya selalu menasehati, tidak juga ia jera. Ia selau mengganggu semua hewan yang ia jumpai.

Hari itu, hari Jum’at. Seperti biasanya setelah pulang sekolah Hasan bermain bersama teman-temannya. Kebiasaan Hasan menggaggu hewan masih terus berlanjut setiap hari. Hari itu Hasan bermain cukup lama hampir menjelang maghrib ia baru pulang. Sampai di rumah ia langsung mandi kemudian persiapan shalat maghrib. Tidak seperti biasanya, setelah shalat maghrib biasanya ia berdzikir dan berdo’a tapi kali ini Hasan langsung pergi ke kamar. Menjelang Isya’ Husein mencari kakaknya tersebut untuk diajak shalat. Ia menuju kamar kakaknya tersebut.

“Kak, ayo shalat!” panggil Husein.

“Ya, kakak sudah tidur !” gumam Husein yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan kakaknya yang sudah tidur.

“Bu, kak Hasan sudah tidur!” lapor Husein.

“Ya sudah, biar nanti ibu yang membangunkan untuk shalat, mungkin ia kecapean main seharian!” jawab ibu.

Dalam tidurnya, Hasan bermimpi menjadi seorang pemburu. Ia membayangkan dirinya menjadi seorang jagoan yang tidak terkalahkan. Semua hewan penghuni hutan dapat ia taklukkan. Saat ia berburu, tanpa sengaja salah satu anak panahnya mengenai seekor ular naga yang sangat besar dan ganas. Ular naga tersebut sangat marah dan menoleh ke arah Hasan. Ular naga membuka mulutnya lebar-lebardan menyemburkan hawa panas. Tiba-tiba tubuh Hasan terasa ringan dan tersedot masuk kedalam mulut ular naga tersebut. Hasan berusaha keras untuk melepaskan diri namun selalu gagal.

“Tolong …tolong…!” Hasan berteriak ketakutan. Teriakan Hasan sampai terdengar pak Rahmat. Pak Rahmat bergegas ke kamar Hasan dan membangunkannya.

“Hasan…Hasan…bangun!” “Kamu mimpi buruk ya!” Coba sekarang kamu ingat, apa kamu pernah melakukan kesalahan sehingga kamu mimpi buruk.

“Hasan tadi juga belum shalat isya kan!” “Ayo shalat dulu, nanti tidur lagi!” ajak ayahnya. Hasan masih duduk termenung dan masih teringat mimpi yang tadi ia alami.

Siang itu, ketika keluar kamar, Hasan melihat seekor kucing hitam. Tanpa pikir panjang sifat usilnya langsung keluar. Ia mengambil bola dan menendangnya ke arah kucing tersebut. Kucing terpental dan menabrak guci hingga pecah. Bolanya terus melayang dan mengenai jendela sampai pecah. Hasan ketakutan dan lari keluar rumah. Tanpa ia sengaja, Hasan menginjak seekor kucing hitam yang berada di depan pintu. “Meoong…!” Kucing langsung mencakar dan menggigit kaki Hasan. Hasan terjatuh kaget dan tidak dapat menahan kesimbangan.

“Tolong…tolong…!” teriak Hasan. Kaki Hasan luka dan mengucurkan darah. Ibu yang berada di belakang segera mendatanginya. Hasan kemudian dibawa ke rumah sakit.

“Ayah …Ibu…, badan Hasan sakit semua!” rintih Hasan.

“Hasan bersyukurlah, lukamu tidak terlalu parah. Makanya jangan suka usil lagi. Jangan suka mengganggu hewan dan menakalinya!” Pak Rahmat menasehati putranya.

“Ya ayah, maafkan Hasan. Hasan berjanji tidak akan usil lagi dan mengganggu hewan-hewan lagi!”

“Alhamdulillah, semoga Allah selalu menyayangi kita semua. Amin.

 

 

 

Nama : Syarifudin

Alamat : SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta

[syarif.abdurrahman @yahoo .co .id]

 

Ulang Tahun Si Siti

Sore itu, Pak Somad mengayuh becak tuanya yang tak berpenumpang menuju rumah. Sejenak ia berhenti untuk menyeka peluh di keningnya yang meluncur dengan deras. Meski matahari telah condong ke ufuk barat, rasanya panasnya masih agak terik, walaupun tidak sepanas siang tadi. Rumah Pak Somad memang agak jauh di pinggir kota, kira-kira sekitar 3 km ke arah timur. Sesekali Pak Somad melihat-lihat di beberapa persimpangan jalan yang dilewati, kalau-kalau ada penumpang yang ingin menggunakan jasanya searah dengan jalan pulang ke rumah. Sementara itu, becak yang dikayuhnya melaju agak sedikit kencang dan kadang terdengar berderit-derit ketika harus belok, mungkin karena pelk becak yang sudah tua. Sambil terus mengayuh, Ia teringat kembali kata-kata anaknya yang semata wayang, pagi tadi sebelum ia berangkat.

“Siti besok minta dibelikan kue ulang tahun ya pak….nanti Siti akan undang teman-teman ke rumah….”.

Ia tertegun sejenak, dan kemudian segera menepikan becaknya dibawah pohon yang agak rindang di pinggir jalan. Semilir angin pepohonan sedikit menyejukkan tubuh Pak Somad yang terasa agak panas. Ia menyeka peluhnya dengan kaos yang dia kenakan. Ia agak kaget, karena sebelumnya Siti tidak pernah meminta ulang tahunnya dirayakan. Di keluarganya sekalipun tak pernah ada tradisi merayakan hari ulang tahun….Jangankan untuk merayakan dan membeli kue ulangtahun, untuk makan sehari-hari saja susah. Tapi keinginan Siti sepertinya tak dapat ditolak, ia selalu merengek-rengek dan minta sekali ini saja ulangtahunnya dirayakan dengan memotong kue dan meniup lilin. Pak Somad teringat ketika Siti sakit panas beberapa waktu yang lalu, Siti selalu mengigau “ kue ulangtahun ya bu…, nanti Siti mau undang teman-teman…’, terus kata-kata itu di ulang-ulangnya. Seketika, ia dan istrinya berjanji pada Siti bahwa ulangtahunnya nanti akan dirayakan dengan meniup lilin dan memotong kue.

Pak Somad tersadar ketika bunyi klakson truk yang lewat menyentaknya. Sesaat kemudian ia merogoh kantong celananya, dan mengambil uang yang terkumpul hari itu. Uang kertas yang terkumpul terlihat lusuh dan kumal, terdiri dari beberapa pecahan limaribuan dan seribuan, ditambah beberapa keping uang logam. Seluruhnya terkumpul Rp 38.000,00. Ia menatap ke atas awan, seolah-olah ia bersyukur. Pendapatan hari ini agak lebih dari biasanya, karena biasanya, rata-rata sehari Ia hanya mendapat uang sekitar Rp 25.000. Kelebihan pendapatan ini bisa menambah uang untuk membeli kue ulang tahun anaknya, yang sudah lama ia janjikan, demikian pikirnya. Pak Somad sadar, bahwa hari ulang tahun anaknya itu jatuh esok hari….ulang tahun yang ke 5. Berarti nanti malam ia dan istrinya harus ke toko kue untuk membeli kue ulang tahun.

Ia segera mengayuh lagi becaknya menuju rumah. Ia harus segera menyetorkan hasil pendapatan becaknya hari ini ke istrinya, dan berharap mudah-mudahan uang untuk membeli kue sudah cukup.

Ketika tiba di rumah, Siti ternyata telah menunggunya di beranda sejak beberapa saat yang lalu. Seakan-akan Siti ingin orangtuanya segera membeli kue ulang tahunnya untuk besok.

”Pak, tadi siang Siti sudah undang teman-teman Siti loh pak…, Ira, Ani, Udin, Tono, dan banyak lagi pak…kira-kira 10 orang..’. begitu cerocos Siti ketika bapaknya tiba di halaman rumah. ”Nanti kita jadi beli kue ulangtahun khan Pak…?” Pak Somad hanya tersenyum kecil sambil mengandeng Siti ke dalam rumah. “ ayo ambilkan minum ayah dulu …”

Pak Somad dan istrinya sebenarnya heran, kenapa tiba-tiba anaknya meminta dirayakan ulangtahunnya. Padahal sebelumnya tak pernah Siti sampai merengek-rengek seperti itu. Menurut cerita istrinya, sebulan lalu memang Siti diundang Imah, anak tetangganya berulang tahun. Seminggu kemudian setelah acara ulangtahun itu, Siti bercerita kepadanya bahwa Imah sekarang sudah memiliki sepeda baru. Sepeda itu menurut Siti adalah hasil dari doa Imah ketika Imah berulang tahun. Waktu ulang tahun, Siti masih ingat, Imah mengucapkan doa. ‘Ya Allah, Imah ingin punya sepeda yang baru…, Amin’ yang kemudian diringi acara meniup lilin di atas kue ulang tahunnya. Dan ternyata, kini Imah telah memiliki sepeda barunya. Dan sejak itu, Siti berpikir, kalo ia melakukan cara seperti si Imah, pasti keinginannya akan segera terwujud. Itu sebabnya Siti selalu merengek-rengek dan minta dibelikan kue dan lilin saat ulang tahunnya kelak tiba, biar ia bisa berdoa sambil meniup lilin di atas kue ulangtahunnya. Ia terkesan karena doa si Imah langsung dikabulkan. Menurut Siti, seandainya apa yang selalu ia inginkan dapat segera terwujud dengan cara itu, alangkah bahagianya dia. Demikian penjelasan istri Pak Somad…Pak Somad segera tersadar, bahwa apa yang dipikirkan oleh Siti sebenarnya pemikiran yang polos dari seorang anak kecil…bahwa menurut Siti, suatu keinginan itu dapat diraih hanya dengan doa, tak perlu kerja keras dan bekerja. Ini adalah suatu hal yang harus diluruskan, agar Siti tidak terjebak pada pemikiran itu terus menerus. Pak Somad ingin agar Siti tahu bahwa, setiap apapun yang diinginkan dan dicita-citakan harus diraih dengan usaha dengan disertai doa. Tidak semata-mata hanya doa saja…..Tapi Pak Somad dan istrinya sudah terlanjur berjanji bahwa besok, di hari ulangtahunnya, mereka akan membelikan kue ulangtahun.

“Tiup lilinnya…tiup lilinnya…tiup lilinnya sekarang juga…sekarang ju..gaa…sekarang…ju…ga” demikian nyanyian bocah-bocah kecil yang mengelilingi Siti, sambil bertepuk tangan riang gembira. “Ucapkan keinginan Siti dulu sebelum meniup lilinnya ya…” sahut seorang ibu yang mengantarkan salah satu anaknya….Ini lah waktu yang ditunggu-tunggu Siti, mengucapkan keinginannya…….

”Ya Allah…Siti ingin bapak tidak bekerja lagi menjadi tukang becak…Siti ingin bapak punya toko supaya bapak bisa terus bersama dengan Siti dan ibu sambil menjaga toko…amin…”.

Siti lalu meniup lilin yang menyala diatas kue tart coklat yang dihiasi namanya dan angka yang menunjukkan umur Siti. Wussss…wuss…wusss, tiga kali Siti menghembuskan udara di mulutnya sehingga nyala lilin padam.

Sejenak Pak Somad dan istrinya tertegun mendengar ucapan Siti…..tanpa bisa berkata sepatah katapun……

 

 

Suprianto [[email protected]]

Jam Dinding Maju Mundur

“Dorr..!”

 

“Uhh… Dasar usil!”

 

Shasa tertawa cekikikan melihat ekspresi wajah Nia yang kaget bercampur kesal.

 

“Habis, pagi-pagi sudah bengong sambil menatap jam dinding,” Shasa berkata sambil masih tersenyum-senyum.

 

Nia menunjuk jam dinding yang terpasang di dinding luar ruang guru. “Itu loh, jam dindingnya rusak,” kata Nia.

 

“Ah, masa’ sih?” Shasa menatap jam dinding yang dimaksud. Jam itu menunjukkan pukul Tujuh kurang Limabelas menit. Kedua jarumnya bergerak teratur. “Kok kamu bisa bilang jam dindingnya rusak?” tanya Shasa setelah beberapa saat menatap jam dinding.

 

“Aku berangkat dari rumah jam Tujuh kurang Limabelas menit. Begitu aku sampai disekolah dan melihat jam dinding itu ternyata masih jam Tujuh kurang Limabelas menit.” Nia menjelaskan.

 

“Ah, masa’ sih?” Shasa berkomentar dengan nada sangsi.

 

“Uhh.. kamu ini! Ah, masa’ sih.. Ah, masa’ sih.. Ya sudah kalau kamu tidak percaya.” Sambil cemberut Nia membalikkan badan.

 

“Eh, eh, jangan ngambek dulu dong,” Shasa berkata sambil mencekal tangan Nia.

 

Pada saat itu, lewatlah pak Yono, guru olahraga di dekat mereka. Mau tak mau, Nia terpaksa menghentikan langkahnya.

 

“Assalamu’alaikum, Pak!” sapa Shasa. “Eh, sekarang jam berapa ya, Pak?” tanya Shasa sopan.

 

Sambil menjawab salam Shasa, pak Yono mengulurkan tangannya. Dengan cepat Shasa melihat waktu yang ditunjukkan jam tangan Pak Yono dan membandingkannya dengan waktu yang ditunjukkan jam dinding.

 

“Jam dinding itu tidak rusak ,” bisik Shasa setelah Pak Yono berlalu. “Aku sudah mencocokkannya dengan jam tangan pak Yono.”

 

“Siapa tahu jam tangan Pak Yono juga rusak,” kata Nia bersikukuh dengan pendapatnya.

 

“Yeee… maksa gitu..,” sekarang giliran Shasa yang berkomentar dengan nada dongkol. “Siapa tahu jam dinding di rumah kamu yang rusak.”

 

“Yeee… Masa’ semua jam dinding di rumahku rusak sih,” bantah Nia.

 

Berdua mereka berjalan bersisian menuju ruang kelas mereka di lantai tiga. Tak lama kemudian terdengar bel masuk berbunyi.

 

Shasa mencolek bahu Nia yang duduk di depannya. “Tuh kan, apa aku bilang, jam dinding di ruang guru tadi tidak rusak,” kata Shasa.

 

“Uhh.. kamu ini.. Di rumahku ada tiga buah jam dinding. Semuanya menunjukkan waktu yang sama. Kalau salah satunya rusak sementara dua jam dinding lainnya menunjukkan waktu yang sama, artinya semua jam dinding di rumahku rusak dong,” bantah Nia.

 

Shasa terdiam. Aneh juga ya. Masa’ ada jam dinding maju mundur begitu? Shasa jadi penasaran.

 

Esok harinya, Shasa sengaja memperhatikan jam dinding di rumahnya sebelum berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, buru-buru ia menuju ruang guru.

 

“Ah, sama kok,” gumam Shasa.

 

“Gimana?” sebuah suara terdengar dari arah belakang Shasa. “Jam dinding siapa yang rusak?”

 

“Jam dinding kamu,” kata Shasa.

 

“Yeee… maksa gitu..” Nia menirukan kata-kata Shasa.

 

“Loh.. jam di rumahku sama kok dengan jam di sekolah,” kata Shasa tak mau kalah. “Tadi sebelum aku berangkat, aku kan memperhatikan dengan seksama.”

 

Nia terdiam. Dahinya berkerut.

 

“Gini deh, nanti sepulang sekolah aku akan bertapa memecahkan misteri ini.” Kata Shasa.

 

Nia menonjok bahu Shasa. “Uhh.. anak usil seperti kamu mau bertapa? Baru duduk diam sebentar pasti sudah gak tahan.”

 

Shasa tertawa-tawa. “Loh.. bertapa ala Shasa itu tidak perlu duduk diam. Itu sih sudah kuno. Pakai bertapa gaya baru dong. Mendengarkan lagu sambil menikmati susu coklat dingin.. mantaaaappp…”

 

Nia ikut tertawa-tawa. “Dasaaarrrr…!”

 

Malamnya, Nia sedang asyik menonton televisi ketika mama memberitahunya Shasa menelepon.

 

“Ada apa, Sha?” tanya Nia.

 

“Sekarang kamu lihat deh jam dinding di rumah kamu!” suara Shasa terdengar bersemangat di telepon.

 

Nia menoleh ke arah jam dinding.

 

“Pasti sekarang jam dinding kamu menunjukkan pukul 7.15. iya kan?”

 

“Iya,” jawab Nia. “Memangnya kenapa?”

 

“Berarti aku sudah berhasil memecahkan misteri jam dinding yang maju mundur,” Shasa berkata dengan nada riang.

 

“Apanya yang dipecahkan?” tanya Nia bingung. “Kamu kan tadi hanya bertanya jam berapa sekarang.”

 

“Besok deh aku ceritakan selengkapnya. Sekarang aku mau kembali bertapa memecahkan misteri-misteri lainnya.”

 

“Dasaarrrr…” Nia berseru gemas kemudian menutup telepon. Ah, dia jadi tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu Shasa.

 

Keesokan harinya, Shasa menyodorkan selembar surat kabar.

 

“Apaan nih?” tanya Nia bingung.

 

“Kamu lihat deh di halaman yang memuat acara-acara televisi,” kata Shasa.

 

Nia membuka surat kabar yang disodorkan Shasa masih dengan perasaan bingung.

 

“Ingat gak semalam ketika aku menelepon kamu, kamu sedang menonton acara apa?”

 

Nia menyebutkan sebuah acara di salah satu stasiun televisi.

 

“Acara itu baru mulai kan?” tanya Shasa lagi.

 

Nia menganggukkan kepalanya. “Terus apa hubungannya dengan misteri jam dinding maju mundur yang katanya sudah berhasil kamu pecahkan?” tanya Nia.

 

“Aduuhh… kamu lihat dong di surat kabar itu. Acara yang kamu tonton semalam itu dimulai pada pukul berapa,” Shasa berkata dengan nada tidak sabar.

 

“Pukul Tujuh malam,” jawab Nia setelah memperhatikan susunan acara televisi.

 

“Ingat gak, jam dinding kamu menunjukkan pukul berapa ketika aku meneleponmu semalam?” tanya Shasa lagi.

 

“Pukul 7.15.” jawab Nia. Tak lama kemudian kedua matanya membesar. “Apa itu artinya… artinya..”

 

Shasa meneruskan perkataan Nia yang terputus. “.. Kalau kamu masih ragu-ragu, nanti pulang sekolah kamu cek lagi saja.” Shasa mengakhiri kata-katanya.

 

“Wah.. kamu memang hebat. Tidak sia-sia kemarin kamu bertapa,” puji Nia.

 

“Shasa gitu loh,” kata Shasa sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.

 

“Dasaaaaarrrr…!”

 

Eh, kalian sudah tidak bingung lagi dengan misteri jam dinding yang maju mundur itu kan?

 

Ibu Nia sengaja memajukan lima belas menit semua jam yang ada di rumah Nia. Tujuannya supaya Nia tidak terlambat tiba di sekolah. Itu sebabnya ketika Nia tiba di sekolah dan melihat jam dinding di luar ruang guru, ia menjadi bingung karena jam dinding itu menunjukkan waktu yang sama dengan saat dia berangkat ke sekolah. Padahal Nia tentu memerlukan waktu tempuh dari rumahnya hingga tiba di sekolah, bukan? Artinya tidak mungkin jam dinding di sekolah menunjukkan waktu yang sama dengan saat Nia berangkat ke sekolah.

 

Ketika Shasa menelepon Nia malam itu, jam dinding di rumah Nia menunjukkan pukul 7.15 menit. Padahal menurut jadwal acara televisi yang ada di surat kabar, acara itu seharusnya dimulai pukul 7.00.

 

Nah, kalau kamu mengalami kejadian seperti Nia, jangan terburu-buru menyimpulkan jam dinding di sekolahmu rusak ya! Hehehe…

 

Erlita Pratiwi

erlitapratiwi @cbn .net .id

 

 

Perawat Dadakan

Shasa duduk bersila di ujung tempat tidurnya. Wajahnya terlihat serius. Tangan kanannya bergerak-gerak diatas selembar kertas putih yang ada di atas alas kayu. Tak lama kemudian tangannya berhenti bergerak. Dipandanginya wajah yang tergambar di kertas.

 

“Kok tidak mirip dengan mama, ya?” gumamnya. Diambilnya karet penghapus kemudian dihapusnya beberapa bagian dari gambar itu. Pinsil di tangannya kembali bergerak-gerak berusaha menyempurnakan gambarnya.

 

“Hoeekk.. Hoeekk..”

Shasa mengangkat kepalanya. Suara apa itu?

“Hoeekk.. Hoeekk..”

 

Suara itu kembali terdengar. Sepertinya itu suara orang sedang muntah. Arahnya dari kamar mandi yang letaknya bersebelahan dengan kamar Shasa. Disingkirkannya kertas dihadapannya. Bergegas Shasa keluar dari kamar. Sore ini hanya ada mama dan dirinya di rumah. Papa belum pulang dari kantor. Berarti yang sedang muntah-muntah di kamar mandi itu.. Mama!

 

“Maaa..” Shasa mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada jawaban. Dengan cemas, Shasa mengulangi ketukannya dengan lebih keras.

 

“Mamaaaa…” tanpa sadar Shasa setengah menjerit. Rasa takut melanda hatinya. Aduhh.. kenapa mama tidak menjawab panggilannya? Diputarnya pegangan pintu kamar mandi. Terkunci! Aduhh.. Bagaimana ini? Bagaimana kalau mama pingsan?

 

“Mamaaaa..” Kali ini Shasa benar-benar menjerit. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Shasa benar-benar ketakutan. Digedor-gedornya pintu kamar mandi. Airmatanya sudah hampir menetes ketika pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka. Mama berdiri disana dengan wajah pucat dan basah.

 

“M..a.. Ma.. Mama kenapa?” Shasa bertanya terbata-bata. Mama tidak menjawab, hanya memegangi perutnya. “Maag mama kambuh ya?” tanya Shasa lagi teringat kalau mamanya punya penyakit maag. Kadang-kadang kalau penyakit maag mama kambuh, mama suka muntah-muntah.

 

Mama melangkah keluar dari kamar mandi. Shasa meraih tangan mama. Duuhh… tangan mama kok dingin sekali? Dituntunnya mama ke kamar.

 

“Mama pusing ya?” tanyanya. Mama menganggukkan kepalanya kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

 

Dengan sigap Shasa menarik selimut yang ada di ujung tempat tidur mama. Diselimutinya tubuh mama kemudian Shasa tertegun. Setelah diselimuti kemudian harus bagaimana?

 

Otaknya berputar cepat. Oiyaaa.. Minyak kayu putih dan obat maag! Shasa melompat dari tempat tidur mama. Setengah berlari ia menuju tempat obat. Dibawanya minyak kayu putih dan obat maag ke kamar mama. Tak lupa segelas air hangat.

 

“Ma, minum obat maag dulu ya?” katanya. Dilihatnya mama membuka matanya.

 

“Nanti saja,” jawab mama lemah.

 

Bagaimana mama ini. Kalau Shasa sakit, Shasa harus minum obat tapi kalau mama yang sakit kenapa minum obatnya nanti saja? tanya Shasa dalam hati.

 

“Kalau begitu, perutnya dibalurin minyak kayu putih saja, ya, Ma?” Kata Shasa menirukan gaya mama kalau sedang membujuk dirinya.

“Nanti saja,” jawab mama lagi.

 

Uhhh.. Minum obat, nanti saja, minyak kayu putih, nanti saja, bagaimana sih mama ini? Gerutu Shasa. Tentu saja Shasa cuma berani menggerutu dalam hati.

 

“Lehernya saja yang dibalurkan minyak kayu putih. Mau ya, Ma?” Shasa masih berusaha membujuk.

 

Untungnya kali ini mama menganggukkan kepalanya. Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, Shasa membalurkan minyak kayu putih ke leher mama.

 

“Mama mau minum teh hangat?” tawarnya.

 

Mama membuka matanya dan menatap Shasa heran. “Memangnya Shasa bisa membuatkan teh?”

 

“Bisa dong,” jawab Shasa cepat. Masa’ membuat teh manis hangat saja tidak bisa sih, kata Shasa dalam hati.

 

Bergegas Shasa menuju dapur. Sesampainya di dapur, langkahnya terhenti. Mama menyimpan teh dan gula di lemari yang ada di bagian atas. Bagaimana Shasa bisa membuka lemari yang tinggi itu?

 

Shasa menjentikkan jarinya. Ditariknya kursi dari ruang makan. Dengan hati-hati, Shasa naik ke atas kursi. Diturunkannya kotak teh dan toples tempat menyimpan gula. Diambilnya cangkir lengkap dengan piring alasnya. Dengan hati-hati, Shasa menekan tombol dispenser. Lohh.. kok air panasnya tidak bisa keluar?

 

Shasa memperhatikan tombol dispenser itu. Ooo.. baru Shasa ingat kalau tombol air panas itu ada kuncinya. Jadi kuncinya harus dibuka dulu baru air panasnya bisa keluar. Nahh.. sekarang sudah beres. Setelah itu, dituangkannya satu sendok kecil gula. Dengan hati-hati diaduknya teh hangat buatannya dan dibawanya ke kamar.

 

“Ini, Ma, tehnya diminum dulu,” kata Shasa.

 

Dilihatnya mama menatap tidak percaya ke cangkir yang dibawa Shasa.

“Aduhh.. anak mama pintar sekali,” puji mama. Shasa tersenyum bangga. Shasa gitu loh, katanya dalam hati.

 

Mama menyeruput tehnya. Kelihatan nikmat sekali. “Enak loh, teh buatan Shasa,” puji mama lagi.

 

Pintu kamar terbuka. Papa berdiri disana. Heran melihat mama yang sedang minum teh hangat di tempat tidur, gelas berisi air, minyak kayu putih dan obat maag yang ada di meja kecil disisi tempat tidur.

 

“Ada apa ini?” tanya papa.

“Mama sakit, Pa,” lapor Shasa. Diceritakannya kejadian tadi. Mama melengkapi ceritanya sambil tersenyum simpul.

“Hebat dong anak papa,” puji papa setelah Shasa selesai bercerita. “Sudah bisa merawat mama.”

“Kita bawa mama ke dokter saja yuk, Pa,” usul Shasa. “Nanti kan bisa dikasih obat sama dokter.”

“Mama bukan sedang sakit maag kok,” papa menenangkan sambil tersenyum.

“Lohh.. kok tadi muntah-muntah?” tanya Shasa heran.

“Mama muntah-muntah bukan karena sakit maag tapi karena sebentar lagi Shasa akan punya adik.”

 

Kedua mata Shasa terbelalak. “HAH?! Punya adik?! Maksud papa.. mama sedang.. hamil?”

Papa tersenyum lebar. Diciumnya pipi Shasa. “Iya, di perut mama ada adik Shasa.”

Shasa hanya bisa menatap papa sambil bengong. Punya adik?!

 

 

Erlita Pratiwi
erlitapratiwi @cbn .net .id