Sawo Matang Rara

Sudah beberapa hari ini ada yang aneh dengan tingkah laku Rara. Wajahnya terlihat murung. Tingkahnya uring-uringan. Mulutnya lebih sering terlihat mengerucut. Satu lagi, Rara selalu berlama-lama ketika mandi. Dua hari yang lalu Rara bahkan minta dibelikan sponge untuk mandi. Sabun mandinya pun tidak lagi sabun mandi anti kuman tetapi sabun mandi seperti yang iklannya ditayangkan di televisi.

“Bu, kenapa sih, kulit Rara tidak putih seperti Kimi?” tanya Rara pada suatu sore sehabis mandi. “Padahal setiap kali mandi sudah Rara gosok pakai sponge.”

Ibu yang baru saja selesai menggoreng pisang menatap Rara dengan heran.

“Lohh.. Ayah Kimi kan orang Jepang, Ra, wajar dong kalau kulit Kimi putih,” jawab Ibu.

“Kenapa dulu Ibu tidak menikah saja dengan orang Jepang supaya kulit Rara putih?”

“Aduuhh.. Rara… Kalau Ibu menikah dengan orang Jepang yang lahir bukan Rara dong..,” Ibu menjawab sambil menahan senyum.

“Terus.. Kenapa kulit Rara tidak seperti kulit Ibu? Kenapa warnanya hitam seperti kulit Ayah?”

“Aduuhh.. Rara sayang.. Warna kulit Rara itu bukan hitam sayang.. tapi sawo matang..,” Ibu menjelaskan dengan sabar. “Memangnya kenapa Rara tiba-tiba ingin mempunyai kulit putih?”

Sesaat Rara terdiam. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya berkata, “kalau kulitnya putih kan cantik, Bu.. Ibu lihat deh, yang jadi fotomodel di majalah kulitnya putih. Pembawa acara di televisi dan bintang iklan juga putih. Rara kepengen kulit Rara putih, Bu.. Kalau Sawo matang begini kan jelek…Gimana sih Bu, supaya kulit Rara berubah jadi putih?” tanyanya.

Sekarang giliran Ibu yang terdiam. Ooo.. ternyata tingkah Rara yang uring-uringan, minta dibelikan sponge untuk mandi dan berlama-lama di kamar mandi rupanya karena Rara ingin mempunyai kulit berwarna putih.

Pelangi untuk Mia

Pelangi untuk Mia

Hari ini Mia sangat bersemangat. Dia telah menyelesaikan tugas melukis yang diberikan minggu lalu.

Mia juga tidak sabar melihat hasil karya Anna. Anna adalah teman dekat dan juga saingan menggambar Mia di kelas enam.

“Anna! Lihat gambarmu donk!” Mia menghampiri Anna dengan bersemangat saat melihatnya masuk kelas.
Anna hanya tersenyum dan menjawab, “Nanti waktu pelajaran menggambar!”

Kesukaan Mia dan Anna yang sama membuat mereka semakin akrab. Sejak mengenal Anna, Mia semakin rajin berlatih agar dapat menyaingi kemampuan menggambar Anna.

Pada akhir semester, Pak Ferdi Guru Seni Melukis mengutus Mia dan Anna untuk mengikuti perlombaan menggambar se-Ibukota. Mereka sangat senang. Baru kali ini mereka mengikuti tingkat Ibukota.

Dengan bersemangat, mereka memikirkan apa yang akan mereka gambar nanti, sesuai dengan tema yang diberikan, yaitu “Harapanku”. Setiap hari mereka berlatih.

“Yah.. hujan! Mia bawa payung? Aku lupa,” seru Anna pada suatu hari. Anna dan Mia baru saja hendak pulang dari sekolah, saat hujan turun deras.

“Payung istimewa pasti selalu kubawa!” Mia mengeluarkan payung tembus pandang kesayangannya.

Tak lama setelah Mia mengantarkan Anna ke rumahnya, Mia kaget mendengar bunyi klakson mobil yang lewat dengan kencang dan terjatuh.

“Pelan-pelan donk kalau menyetir!” teriak Mia dengan kesal. Mia mengambil payungnya kembali, namun berteriak kesakitan saat merasakan sakit di tangan kanannya.

“Aduh! Sakit sekali! Pasti terkilir waktu jatuh tadi!” Mia segera memegang payung dengan tangan kirinya dan bergegas pulang.

Esok harinya, Mia tidak masuk sekolah. Setelah pulang sekolah, Anna langsung pergi ke rumah Mia. Anna mendapat kabar kalau tangan Mia terkilir dan membutuhkan waktu seminggu lebih untuk sembuh.

Saat melihat Anna masuk, Mia langsung menangis sedih.
“Anna, bagaimana ini. Padahal lomba dua hari lagi,” Mia berbisik di sela-sela tangisnya.

Pahlawan Daun Cabai

Pahlawan Daun Cabai

Jalan-jalan ke pematang sawah dan kebun? Di pagi seperti ini? Pasti becek dan licin. Belum lagi udara pegunungan yang menggigilkan tubuh. Brrr.. Lebih enak melanjutkan tidur sambil berselimut.

Kemarin sore Shasa baru saja tiba di rumah Yuyut. Mumpung hari senin besok tanggal merah, mama mengajak papa dan Shasa mengunjungi Yuyut yang tinggal di kaki Gunung. Yuyut itu panggilan sayang Shasa untuk kakek mama. Usianya sudah 85 tahun.

Pagi ini, matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Malas rasanya meninggalkan kehangatan selimut di tempat tidur. Namun Iyan, sepupunya, mengajaknya menikmati suasana desa di pagi hari. Walaupun awalnya segan, akhirnya Shasa mengiyakan ajakan Iyan. Mumpung sedang berlibur di desa, kapan lagi bisa menikmati indahnya pagi dengan menyusuri pematang sawah dan kebun?

Ditemuinya mama yang sedang menyiapkan sarapan. Setelah mendapat ijin, Shasa buru-buru mengganti bajunya dengan celana panjang dan kaos lengan panjang untuk menangkal udara pagi yang dingin

Bertiga mereka menyusuri jalan desa menuju pematang sawah. Delu berjalan Pematang Sawahpaling depan. Shasa memandang sekelilingnya dengan kagum. Hamparan padi tampak seperti permadani berwarna hijau. Dari kejauhan terdengar kambing-kambing mengembik di dalam kandangnya. Shasa menghirup nafas dalam-dalam. Ahhh.. udara pagi di desa begitu segar. Gunung Ciremai berdiri dengan gagahnya. Bersih. Tanpa ada bagian yang tertutup awan.

“Hei.. jalannya jangan cepat-cepat dong,” seru Shasa ketika dilihatnya Delu sudah jauh meninggalkan dirinya. Dipercepatnya langkahnya. Uhh.. ternyata tidak mudah berjalan cepat di pematang sawah.

Iyan yang berjalan di belakang Shasa tertawa mendengarnya.

“Kamu terbiasa berjalan di jalanan beraspal sih,” ledek Delu sambil menghentikan langkahnya.

Shasa tidak menggubris ledekan itu. Ia sibuk berkonsentrasi dan menjaga keseimbangan tubuhnya. Beberapa kali Shasa nyaris terpeleset. Untung dengan sigap Iyan sempat memeganginya hingga ia tidak sampai terperosok ke dalam sawah.

“Berhenti dulu dong,” pinta Shasa dengan nafas sedkit terengah-engah. Ia langsung menjatuhkan diri duduk di sebuah batu besar yang ada di dekatnya. Ia yang awalnya kedinginan kini malah berkeringat. Akhirnya digulungnya lengan bajunya. Ahh.. begini lebih nyaman, katanya dalam hati. Setelah beristirahat sejenak mereka melanjutkan perjalanan.

Mereka kini berbelok menyusuri jalan kecil yang melintasi kebun. Kata Iyan, Kebunkebun ini milik Yuyut. Sesekali mereka berhenti. Delu dan Iyan bergantian menerangkan nama-nama pohon yang ada di kebun Yuyut. Ada pohon Cengkeh, Melinjo, Rambutan, Durian dan Nangka. Mereka juga memunguti bunga cengkeh yang berjatuhan. Hmm.. Shasa baru tahu rupa pohon cengkeh. Delu juga menunjukkan Cengkeh yang sudah bisa dipetik.

“Nah, yang itu namanya pohon Pisang, Sha,” kata Delu sambil menunjuk sebuah pohon.

“Yeee.. itu sih aku juga tahu,” jawab Shasa dongkol. Bibirnya yang cemberut membuat pipinya menggembung.

Ondel-Ondel dan Budi

Ondel-Ondel dan Budi

Pada suatu hari aku hendak pergi untuk membelikan ibu gula dan terigu. Perjalananku cukup jauh untuk sampai ke tempat Bi Inah. Bi Inah ini ialah penjual sayur. Bi Inah cukup terkenal karena di desa kami hanya ia yang berjualan sayur-mayur. Maklum desa kami cukup terpencil. Awalnya aku juga agak malas belanja di Bi Inah mengingat jaraknya yang jauh itu cukup melelahkan, tetapi aku sadar bahwa pengorbanan ibu terhadapku jauh lebih besar daripada ini.

Sepanjang perjalanan mulutku tak bisa diam untuk menghafalkan beberapa doa harian. Sambil melihat susana desa yang sangat menyejukkan, tiba-tiba langkahku terhenti, mulutkupun terkunci. Haaa??? Aa… Aaa.. Aaaapa itu?? Besar sekaliii, iih seram.. Aku takut, dengan lantang aku membacakan doa makan sampai tempat Bi Inah. Hhhhhh.. Hhhh.. Hhhhh… Bi Inah tampak keheranan melihat wajahku yang pucat disertai nafasku yang terengah-engah. Bicaraku pun jadi terbata-bata…
Budi : Bbbb… Bbiiiii.. Bii Inah.. Tadi saat perjalanan ke tempat bibi ini aku melihat raksasa yang sangat menyeramkan Bii.. Besaaaar dan suaranya keras sekali. Aku takut bi, bagaimana ya aku nanti pulangnya?
Bi Inah : Ohya? Ada raksasa? Selama bibi tinggal di sini belum pernah sekalipun melihat raksasa. Di mana tepatnya kamu melihat raksasa tersebut?
Budi : Itu bi, persis sebelum belokan ke arah rumah Bi Inah.
Bi Inah : hmmm ” Bi Inah berfikir dengan keras” ya sudah nanti biar bibi antar hingga selepas tempat yang kamu lihat ada raksasa tersebut ya. Sekarang kamu mau beli apa?
Budi : Hee…  Iya Bi sampai lupa. Aku mau beli gula dan garam.
Bi Inah : Baik. Ini saja kan? Totalnya Rp. 8000
Budi : Iya bi itu saja. Sekarang tolong antarkan aku melewati tikungan itu ya Bi.
Bi Inah : Iyah baiklah, maaf ya bibi ga bisa antar sampai rumah, karena warung bibi ga ada yang jaga.
Budi : iya Bi gak apa-apa..

Budi dan Bi Inah berjalan bersama hingga sampai di tempat di mana raksasa tersebut berada. Dan benar raksasa tersebut masih ada disertai suara yang kencang. Budi masih sama takutnya dengan yang tadi walaupun sudah ada Bi Inah.
Budi : Iiiiii… iitu bi.. Raksasanya..
Bi Inah : Oalah.. Itu kan ondel-ondel anak baguss..
Budi : Apa bi Ondel-Ondel? Seperti nama makanan, udah Bi aku takut.. Aku mau lari, makasih ya Bi…
Budipun lari terbirit-birit. Kencang sekali. Sampai beberapa kali ia menabrak orang yang berpapasan dengannya. Orang – orang pun terheran ada apa dengan Budi, ko dia nampak ketakutan siang hari gini?!

Kesombongan Si Kupu-kupu

Kesombongan Si Kupu-kupu

Di sebuah kebun yang di penuhi oleh tumbuhan dan hewan, hiduplah sekelompok ulat yang hidup dengan damai. Ulat-ulat ini bernama Rara, Riri, Fafa dan Fifi. Mereka hidup berdampingan dengan hewan lainnya dengan rukun dan saling tolong menolong. Keempat ulat ini adalah saudara kandung. Orang tua mereka telah tiada. Rara dan Riri adalah ulat yang sudah dewasa, sedangkan Fafa dan Fifi adalah adik mereka berdua.

Pada suatu hari Rara dan Riri berubah menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu yang indah. Mereka berdua kemudian sering berkumpul dengan kawanan kupu-kupu yang lainnya. Awalnya mereka masih sering merawat adiknya Fafa dan Fifi, tetapi seiring waktu berjalan, mereka lebih sering berkumpul dengan kawanan kupu-kupu yang indah. Sifat Rara dan Riri hari demi hari berubah. Mereka jarang kembali ke tempat Fafa dan Fifi, bahkan sifatnya pun menjadi sombong karena keindahan mereka.

Fafa dan Fifi akhirnya berjuang mempertahankan hidupnya sendiri. Sampai pada suatu hari, Fafa dan Fifi yang sedang mencari makan bertemu dengan Rara dan Riri yang sedang berkumpul dengan kupu-kupu lainnya. “Kak Rara dan Riri apa kabar? Mengapa kakak jarang kembali ke rumah?”. Tanya Fifi. Rara dan Riri kaget mendengar suara adiknya tersebut. Rara dan Riri tetap acuh dan tidak menjawab pertanyaan adiknya. “Kakak kenapa diam saja?” Tanya Fafa kali ini.

Akhirnya Riri menjawab dengan nada tegas, “Siapa kalian ini? Seenaknya saja memanggil kami kakak. Kalian hanyalah ulat kecil yang kotor! Sedangkan kami adalah kupu-kupu yang indah.” Akhirnya kawanan kupu-kupu itu pergi meninggalkan Fafa dan Fifi. Mendengar jawaban seperti itu, Fafa dan Fifi sangat sedih. Mereka tidak menyangka, kakak yang mereka sayangi dan dulu sangat sayang kepada mereka, kini berubah menjadi sombong. Akhirnya Fafa dan Fifi memutuskan kembali ke rumah.

Cahaya Itu Adelia

Bel sekolah berbunyi menandakan waktu belajar sudah di mulai, pintu gerbang sekolah segera di tutup oleh penjaga sekolah. Hiruk – pikuk, riuh – rendah suara anak-anak terdengar jelas saat memasuki kelas mereka masing-masing. Para guru segera melaksanakan kewajiban dan tugasnya untuk mengajar sesuai bidangnya di masing-masing kelas.

Pagi itu Adelia terlambat datang ke sekolah. Sesampainya di sekolah pintu gerbang sudah terkunci. Adelia harus menunggu satu jam pelajaran usai baru dapat masuk ke dalam sekolahnya. Adelia mendapatkan hukuman berdiri di luar kelas untuk satu jam pelajaran berikutnya karena sudah terlambat datang ke sekolah, dan di haruskan menulis kalimat ” saya berjanji tidak akan datang terlambat ke sekolah ” sebanyak dua
lembar. Terbuang sudah dua jam mata pelajaran Adelia pagi itu.

Dari kejauhan tampak seorang gadis kecil sedang memperhatikan sekolah Adelia, bajunya lusuh dan kotor sekali. Adelia yang kala itu sedang berada di luar kelas memperhatikan dengan seksama gadis kecil tersebut. Adelia yang tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya bertekad sepulang sekolah nanti akan menemui gadis kecil tersebut dan menanyakannya kenapa dia memperhatikan sekolah Adelia dengan seksama.

Saat yang di tunggu oleh Adelia pun tiba, bel tanda berakhirnya pelajaran sudah berbunyi. Setelah merapihkan semua buku-bukunya, Adelia bergegas keluar guna mencari dan menemui gadis kecil tersebut. Akan tetapi gadis kecil tersebut sudah tidak ada di sekitar sekolah Adelia. Tak lama berselang datang lah mobil yang menjemput Adelia. Adelia meninggalkan sekolahannya masih dengan rasa penasaran dan kecewa karena tidak dapat menemui gadis kecil tersebut.

Dalam perjalanan menuju rumahnya Adelia melihat dari belakang ada seorang gadis kecil yang sedang mengamen di lampu merah dari satu mobil ke mobil berikutnya. Adelia terkejut di buatnya saat mengetahui pengamen tersebut adalah gadis kecil yang sedang si carinya. Segera Adelia membuka pintu mobil dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Pak Maman sopir Adelia di buat terkejut sekaligus kagum oleh sikap Adelia yang terpuji tersebut. Gadis kecil tersebut sangat kebingungan, akan tetapi dia menuruti keinginan Adelia untuk masuk kedalam mobil. Kemudian Adelia mulai membuka percakapan dengan gadis kecil tersebut, tampak jelas gadis kecil tersebut memperhatikan Adelia.

Tiga Sekawan

Tobby, Molly dan Dipsy merupakan  tiga ekor kucing yang sangat lucu dan jinak. Mereka di rawat dan dibesarkan oleh seorang gadis muda di sebuah rumah mungil, bersih dan indah. Tobby, Molly dan Dipsy mendapatkan kasih sayang yang sama serta tidak pernah dibeda-bedakan oleh pemiliknya.

Tobby merupakan kucing ras keturunan Persia, Molly merupakan kucing peranakan antara kucing angora dan kucing local, sedangkan Dipsy merupakan kucing local. Ketiganya sangat akur dan bersahabat. Tobby yang merupakan kucing tertua sangat sayang kepada keduanya, dia tak segan-segan  menjilati dan  membiarkan tubuhnya ditiduri oleh Dipsy kucing termuda dan terkecil.

Tobby, Molly dan Dipsy tidak pernah di izinkan keluar rumah oleh pemiliknya, karena pemiliknya khawatir mereka akan di lukai oleh kucing lainnya atau hilang. Mereka mendapatkan makanan yang bergizi dan juga di beri susu setiap harinya. Suatu ketika Molly menyampaikan keinginannya kepada Tobby dan Dipsy, bahwa dia ingin melihat dunia luar, kemudian Molly mengajak Tobby dan Dipsy untuk berpetualang.

MOLLY
Tobby, Dipsy aku ingin sekali melihat dunia luar.

TOBBY
Jangan Molly, nanti kamu  bisa di lukai oleh kawanan kucing liar.

MOLLY
Bagaimana kalau kita keluar bersama-sama?

DIPSY
Aku takut Molly, lagian kita sudah enak ada disini.

TOBBY
Iya Molly, kalau kita kesasar gimana?

Akhirnya Molly berhasil meyakinkan  kedua sahabatnya Tobby dan Dipsy untuk bersama-sama pergi keluar rumah. Mereka sangat menyukai apa yang  mereka lihat di luar rumah, sesuatu hal yang sebelumnya belum pernah mereka lihat. Tanpa mereka sadari sekawanan kucing liar sudah mengintai mereka bertiga, dan benar saja apa yang di khawatirkan dan disampaikan oleh pemilik mereka benar-benar terjadi. Kucing-kucing liar tersebut mengepung Tobby, Molly dan Dipsy.

Impian Olive

Olive adalah gadis kecil berusia 8 tahun, terlahir di sebuah keluarga berkecukupan dan kaya raya membuat Olive merasa disisihkan dan tidak disayang oleh kedua orang tuanya karena padatnya aktivitas dan kesibukan dari kedua orang tuanya. Selama ini Olive diasuh dan dijaga oleh seorang bibi yang menganggap Olive seperti anaknya sendiri.

Tuhh bibi lihat kan, papa dan mama hanya mementingkan dirinya sendiri, rajuk Olive suatu ketika kepada bibi pengasuhnya. Sang pengasuh berusaha menghibur dan menenangkan anak majikannya tersebut.

Non Olive harus banyak sabar, kan papa dan mama bekerja keras cari uang demi memenuhi kebutuhan non Olive juga. Non Olive tidak boleh marah-marah apalagi sampai ngambek sama papa dan mama. Ucapan-ucapan sederhana yang sangat bijak dari bibi lah yang dapat membuat Olive tenang.

Suatu ketika Olive pulang sekolah membawa kabar gembira, dia terpilih mewakili sekolahnya untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat sekolah dasar di sekolahnya. Dengan antusias Olive menceritakan kepada orang tuanya prestasi yang membanggakan tersebut. Orang tuanya menyambut bahagia dan bangga terhadap prestasi yang dicapai oleh Olivia, akan tetapi sangat disayangkan mereka tidak dapat mendampingi Olive di olimpiade tersebut.

Mama sama papa udah gak sayang lagi sama Olive. Olive kan juga mau seperti teman-teman yang lain, papa sama mama hadir saat Olive ikut olimpiade nanti. Berikut kalimat protes yang keluar dari mulut Olive. Kemarahan Olive sudah tidak dapat dibendung lagi, bahkan Olive sudah tidak mau lagi mendengar penjelasan papa dan mamanya. Olive berlari masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu keras-keras.

Olimpiade matematika memang masih tiga bulan lagi, tapi tampak Olive kurang bersemangat dan bergairah hari itu mengikuti latihan olimpiade matematika. Wajahnya yang memucat membuat para guru pengajar dan kepala sekolah cemas, ditambah lagi badan Olive demam. Segera Olive dibawa ke klinik terdekat, dan bisa dipastikan Olive terkena sakit DBD. Dokter menganjurkan Olive diopname guna observasi, pihak sekolah langsung menghubungi keluarga Olive. Dari ujung telp hanya suara bibi yang dengan gelisah dan panik menerima dan menjawab telp dari guru Olive.

Surat Cinta Mama

Surat Cinta Mama

Shasa mengusap peluh yang menitik di dahinya. Siang ini udara terasa panas luar biasa. Matahari bersinar dengan garang. Angin seolah enggan bertiup. Sesekali debu jalanan berterbangan bersamaan dengan kendaraan yang melintas. Penyejuk udara di dalam mobil yang Shasa tumpangi seolah tak berfungsi.

            Ketika mobil berhenti di depan rumah, Shasa membuka pintu mobil dengan bersemangat.

            “Terima kasih, Tante,” ucapnya. Tante Herlin yang mengemudikan mobil membalas ucapan Shasa sambil tersenyum.

            Shasa bergegas membuka pintu pagar. Dengan tak sabar, ia masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang tembus ke dapur dan langsung menuju ruang makan.

            “Mamaaaaa…,” teriaknya dengan gembira. Dihampirinya mama yang sedang duduk di salah satu kursi sambil memangku Nino, adik Shasa. Dipeluknya mama dari arah belakang.

            “Aduh.. Anak Mama.. Pulang sekolah bukannya mengucapkan salam kok malah teriak-teriak seperti itu..”

             “Shasa kan kangen, Ma,” rajuk Shasa. “Mama juga pasti kangen kan sama Shasa?”

            Mama tergelak mendengar kata-kata Shasa. “Tentu saja sayang.. Sekarang Shasa makan dulu sana!” perintah Mama.

            Dengan patuh Shasa mengambil piring dan menyendok satu demi satu hidangan yang ada di atas meja. Setelah mencuci tangan, Shasa duduk dan mulai memasukkan suap demi suap makanan yang ada di piringnya ke dalam mulut. Nasi, tumis sawi putih, telur balado dan ikan bandeng presto yang digoreng. Makannya sambil ditemani mama. Uhh… Mantaaabb!!!

            Tiba-tiba gerakan tangan Shasa terhenti. “Eh, Mama sudah makan?”

            “Sudah, Sayang..”

            “Senang ya, Ma, jalan-jalan di Yogya tiga hari?” Pertanyaan Shasa meluncur diantara gerakan mulutnya yang sibuk bekerja.

            “Huss.. Mama ke Yoga bukan jalan-jalan tapi bekerja,” bantah Mama. “Mama harus mengumpulkan bahan untuk buku Mama. Mama perlu melihat langsung dan mewawancarai beberapa orang.”

Lima Ekor Anak Kucing

Lima Ekor Anak Kucing

Ngeong…! Suara Kucing itu pelan. Ia baru saja melahirkan lima ekor anak laki-laki yang sangat lucu-lucu sekali. Bulunya berwarna-warni, ada yang belang abu-abu, orange, putih, hitam dan emas. Anak-anaknya diberi nama Kaka, Kuku, Kiki, Keke, Koko.

Mereka tinggal di dalam gudang rumah Eza. Ibu kucing sedang menyusui kelima anaknya yang lucu-lucu itu.

“Bu, aku lapar.” kata Kaka.

“Kita juga lapar bu.” sahut keempat adik Kaka.

“Sabar ya nak, sakarang masih sore.” Jawab Bu Kucing.

“Memangnya kenapa bu?” Tanya Kiki anak ke-3.

“ Soalnya tikus-tikus masih sulit ibu tangkap, karena mereka sangat cepat dan lincah larinya. Kalian minum susu ibu saja dulu.”

Malam pun datang. Bu kucing sudah siap memburu tikus untuk kelima pandawa anaknya. Langkah demi langkah Bu bucing berjalan, pelan sekali. Sambil menengok kanan kirinya barang kali ada tikus yang muncul. Bu kucing masuk ke lemari bekas yang sudah terbuka. Ternyata ada 2 ekor tikus. Dengan cakar yang kuat dan taring yang tajam, 2 tikus langsung mati seketika. Satu untuk anaknya dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.

“Hore…asyik…ibu bawa makanan.” teriak kelima anaknya.

“Jangan berebut ya.” ucap Bu Kucing. Mereka makan dengan lahap. Setelah selesai makan mereka langsung tidur.

Setelah seminggu, sekarang anak-anaknya ingin berlatih mencari makanan sendiri. Koko si bungsu juga berlatih berburu, ia mendapatkan tikus yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Terkaman Koko belum sekuat ibunya, gigitannya juga belum kuat. Hal ini membuat tikus itu bisa lepas, bahkan ia menyerang balik Koko.

Ngik..ngik..ngik ! Koko kesakitan. Tikus itu menggigit lehernya. Untung saja keempat saudaranya si Kaka, Kiki, Kuku dan Keke melihatnya.

“Koko!” teriak saudaranya khawatir.

Kuku mencoba melepaskan gigitan tikus itu. Sedang Keke mengigit dan menarik kaki tikus. Kiki dan Kaka menarik adiknya yang sudah kesakitan.

“Kamu tak apa-apa Ko?” tanya Kiki.

“Leherku sakit sekali.” jawabnya.

Leher Koko berdarah. Ia sangat lemas. Kemudian Koko dibawa ke rumahnya (gudang). Bu Kucing kaget dan sedih melihat Koko yang terluka. Ia membalut luka dilehernya.

“Maafkan ibu, serharusnya ibu saja yang berburu mencari makan.”

“Ini bukan salah ibu. Lain kali kita harus lebih hati-hati dalam berburu.” ujar Kaka.

“Betul apa kata Kaka.” sahut Keke dan Kuku.