2 Potong Roti

2 Potong Roti

           
         Rasulullah SAW bercerita…

 

        Pada suatu hari di kalangan Bani Israil, ada seorang ahli ibadah. Ia menghabiskan waktu enam puluh tahun untuk terus-menerus menyembah Allah SWT di kuilnya.
     Ibadah yang begitu khusyuk membuat Allah SWT ridha kepadanya. Hujan pun turun terus-meneurs di kuil dan sekitarnya. Pepohonan tumbuh menghijau, lebat, dan indah. Padahal, di sekitarnya, cuma ada tanah gersang.

        Suatu hari, rahib yang rajin beribadah ini keluar kuil, dilihatnya pepohonan, langit, dan gunung-gunung di kejauhan.
       “Seandainya aku turun dan melihat-lihat kebesaran Allah SWT lewat ciptaan-Nya, keimananku pasti akan bertambah,” demikian bisiknya sambil tersenyum.

Cuma Gara-Gara Memaafkan

Cuma Gara-Gara Memaafkan

Adik-adik tersayang, Anas r.a. mengisahkan…

        Ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama kami, tiba-tiba kami melihat beliau tertawa hingga tampak gigi serinya. Melihat hal itu, Umar bin Khattab r.a bertanya, ‘Apa yang membuat engkau tertawa, ya Rasulullah?’

        Rasulullah SAW menjawab, ‘Ada dua orang dari umatku berlutut di hadapan Rabbul Izzati. Salah seorang dari mereka berkata,
‘Ya Allah, ambillah pahala saudaraku ini untukku karena saat di dunia, ia telah berbuat aniaya kepadaku.’

        Allah berfirman,
(“) Bagaimana bisa kau lakukan itu terhadap saudaramu, padahal ia tidak memiliki kebaikan sedikit pun. (“)
Yang Melebihi Ibadah

Yang Melebihi Ibadah

Adik-Adik tersayang, Rasulullah SAW pernah menceritakan kepada para sahabatnya sebuah kisah yang disampaikan Jibril A.S kepada beliau. Ini dia Kisahnya…


Ada seorang hamba yang telah menyembah ALLAH SWT selama lima ratus tahun. Orang itu tinggal di sebuah bukit yang panjang dan lebarnya tiga puluh kali tiga puluh hasta. Bukit itu dikelilingi lautan luas dari segala penjuru. Bukit itu memiliki satu mata air sebesar ibu jari yang memancarkan air bening.


Rumah orang itu ada di kaki bukit. Setiap malam, sebutir delima jatuh dari pohon untuk memberinya makan pada keesokan harinya. Seluruh hari sepi yang dilaluinya dihabiskan untuk beribadah. jika sore menjelang, ia turun dari atas bukit dan berwudhu. Diambilnya buah delima itu dan dimakanya.

Kemudian, ia kembali dan melakukan shalat. Begitu terus selama beratus-ratus tahun...

Curhatan Penyelamat

Tahukah Adik-adikku yang disayangi ALLAH, bahwa amal shalih yang pernah kita lakukan bisa kita sertakan dalam berdoa memohon pertolongan dari ALLAH SWT? Bisa atau tidak hayooo? Kasih tau gak yaaa? Mau tau jawabannya? Yuks simak kisah yang diceritakan langsung oleh Rasulullah SAW, cekidot!

Ada tiga sahabat berjalan bersama-sama melalui jalan panjang yang harus ditempuh selama berhari-hari.

Suatu ketika, di dalam perjalanan itu, mereka bermalam di sebuah gua. Namun, atas izin ALLAH juga, sebuah batu yang sangat besar jatuh menutupi pintu gua.

Dengan panik, ketiganya mendorong sekuat tenaga, namun sedikit pun batunya tidak bergerak. Mereka terancam terkurung sampai mati kelaparan. Maka, salah seorang berkata, “Kita tidak akan selamat dari sini kecuali memohon pertolongan ALLAH dengan amal shalih yang telah kita lakukan.”

Genap 100 Orang

Genap 100 Orang

Adik-adik tersayang, cerita kali ini adalah tentang begitu besarnya kasih sayang ALLAH SWT kepada orang-orang yang mau bertobat, — berapapun besarnya dosa yang pernah dilakukan.


Dahulu sekali, pada masa umat sebelum kita, ada seorang lelaki yang telah melakukan dosa sangat besar.

Ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Pada suatu saat, timbullah keinginanya untuk bertobat. Namun, masihkah ALLAH menerima tobat dan memberikan ampunan untuknya?

Kemudian, bertanyalah ia kepada orang-orang di sekelilingnya, “Tahukah kalian di mana orang yang pliang berilmu di muka bumi ini?


Dengan takut-takut, orang-orang itu berpikir sejenak, lalu salah seorang dari mereka menyarankan,

“Pergilah terus ke arah telunjuk jariku. Lalu, bertanyalah di mana rumah seorang rahib terkenal yang sangat tinggi ilmunya.”

Pembunuh itu bergegas pergi. Hatinya dipenuhi harapan untuk penghapusan dosa.

Tiba di rumah rahib, ia langsung menceritakan semua pembunuhannya dan bertanya, “Jika aku bertobat, dapatkah dosaku terampuni?”

Menjenguk Teman

Pada suatu hari, adzan subuh telah berkumandang. Usman sudah rapi dan siap-siap untuk berangkat ke masjid bersama ayahnya. Masjidnya cukup dekat dari rumah Usman, jadi Usman dan ayahnya cukup berjalan kaki saja untuk sampai disana. Setelah sholat subuh Ibu sudah menyiapkan sarapan untuk Usman dan ayah. Seperti biasa, ayah akan mengantarkan Usman ke sekolahnya.

Usman berpamitan kepada ibunya. “Ibu, Usman berangkat sekolah dulu ya. Assalamu’alaykum.” Kata Usman. “Iya Usman, Usman belajar yang benar ya di sekolah. Wa’alaykumsalam.” Jawab ibu Usman. Ayah mengantar Usman ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Usman tidak pernah terlambat datang ke sekolah karena bangun selalu tepat waktu.

Sesampainya di sekolah, Usman berpamitan dengan ayah sambil mencium tangannya. Tidak lupa ayah memberikan nasehat kepada Usman agar belajar yang benar. Usman berjalan menuju kelasnya, dan menunggu bel masuk berbunyi. Usman duduk di kursi barisan paling depan. Biasanya Usman duduk bersama Umar, tetapi hari ini Umar tidak masuk sekolah. Sewaktu jam istirahat, Usman bertanya kepada Ali, “Hari ini Umar kemana ya? Kok dia tidak masuk sekolah?” Tanya Usman. “Umar sedang sakit demam berdarah Man. Aku kemarin mengantarnya bersama keluarganya ke rumah sakit.” Jawab Ali. “Innalillahi, aku baru tahu. In Syaa Allah nanti aku akan menjenguknya.”

Bel pulang sekolah telah berbunyi, ayah sudah menunggu Usman. Kemudian di perjalanan usman menceritakan bahwa Umar sedang sakit. “Ayah, teman sebangku Usman, si Umar sedang sakit yah. Nanti rencana Usman ingin menjenguknya. Bolehkan yah?” Kata Usman sambil bertanya kepada ayahnya. “Usman, tentu saja boleh. Nanti akan ayah antar Usman ke rumah sakit.” Jawab ayah Usman.