Perkataan #1
[Membanding-bandingkan]
“Dia aja Bisa, Masa Kamu Enggak?”



Ketika anak lahir, hal pertama yang harus Bunda tanamkan dalam pikiran adalah setiap anak berbeda.

Kalau pemikiran tersebut sudah tertanam, maka Bunda akan paham bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing.

Mereka tumbuh & berkembang menjadi dirinya sendiri.

Nggak bisa disamain dengan adek/kakaknya.

Nggak bisa dibandingin dengan temannya.

Nggak bisa disuruh apalagi dipaksa untuk jadi seperti anak lain.

---

Sayangnya, masih banyak orangtua yang secara nggak sadar sering membandingkan anaknya dengan anak lain,

karena merasa anak-anak tersebut lebih baik daripada anaknya.

Padahal, sebenernya anak Bunda juga baik kok, asalkan Bunda memang fokus pada kebaikannya.

Kalau hanya fokus pada kekurangan anak, yaaa sampai tua pun akan tetap berharap anaknya bisa seperti anak lain.

Muter-muter di situ aja terus masalahnya.


Fakta

👀  Yang dilihat, anak nggak pandai pelajaran di sekolah.

Padahal, bisa jadi dia hobinya menggambar, menyanyi, menari, berbakat jadi seniman!

👀  Yang dilihat, anak nggak PD tampil di depan umum.

Padahal, bisa jadi dia berbakat dalam bidang menulis/lainnya yang nggak perlu menunjukkan diri di hadapan orang banyak.

👀  Yang dilihat, anak suka hancurin barang di rumah saat bermain.

Padahal, mungkin dia berbakat jadi atlet taekwondo yang hebat jika diarahkan dengan benar.


Karena yang dilihat hanya sisi negatifnya, maka muncullah ucapan yang bersifat membandingkan,


"Belajar yang rajin dong, biar nilainya bagus kayak temen kamu."

"Tuh, lihat. Adek aja bisa. Masa Kakak nggak bisa?"


---

Tahukah Bunda dampak buruk apa yang terjadi pada anak jika sering dibanding-bandingkan oleh orangtuanya?

1️⃣. Karena kelebihan anak sering diabaikan & kekurangannya sering dipermasalahkan, anak jadi sulit melihat sisi positif/kelebihan yang bisa dikembangkan pada dirinya.

2️⃣. Karena sulit melihat kelebihan dirinya, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah diri.

Di kepalanya sudah tertanam bahwa dirinya buruk, serba kurang, nggak bisa apa-apa, mengecewakan orangtua.

→ Alhasil, dia sulit melakukan sesuatu dengan benar, karena nggak yakin dengan kemampuan dirinya.

3️⃣. Karena sudah terlanjur rendah diri dan ragu dengan kemampuannya, maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang labil,

sulit mengambil keputusan, sering menyalahkan diri sendiri, kurang bertanggungjawab, penuh keragu-raguan.

Dahsyat kan, dampak buruknya??


Solusi

Bunda pastinya mau anak berkembang menjadi pribadi yang baik, kan?

Nah, daripada terus-terusan berceloteh membandingkan anak, yuk coba lakukan tips berikut ini agar mental anak tumbuh dengan matang:

✅  Kalau anak nggak pandai dalam suatu hal, nggak perlu repot maksain dia untuk bisa.

Fokus aja pada kelebihan yang dia punya.
Kembangkan dengan cara yang tepat.

✅  Daripada mengeluhkan kekurangan anak, membanding-bandingkan anak, lebih baik puji anak atas kelebihan yang dimiliki.

Agar anak semakin percaya diri dan merasa didukung untuk berkembang menjadi lebih baik tanpa paksa.

→ Letakkan kelebihan anak di depan agar terus kelihatan,

→ Sementara kekurangannya taruh saja di belakang agar tak jadi penghalang 🙂

→ Kalau Anak kembar saja bisa berbeda, apalagi yang bukan kembar?


Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk Bunda (juga Ayah) dalam mendidik anak, ya!

***


Untuk Perkataan #2 - #5 supaya tidak terlalu panjang → klik tombol Halaman Selanjutnya 👇

Tolong masukkan alamat email Bunda juga yaa.

*Dengan mengisi email, berarti telah memberi kami kesempatan berbagi manfaat ke kehidupan Bunda... ^-^