Anak Penyapu Jalan

Pada suatu pagi yang cerah, Desy bersama sahabatnya Melinda dan Astari, mereka sedang berolahraga. Kegiatan ini selalu mereka lakukan dengan rutin. Bagi mereka jika berolahraga pagi itu sangat baik. Karena selain udaranya masih sangat segar,dan membuat mereka menjadi lebih semangat. Saat mereka sedang berolahraga Desy melihat anak kecil yang sedang menyapu jalan.

Tiba-tiba Desy menjadi iba kepada anak tersebut. “Des, kamu kenapa melamun?” tanya Melinda sambil menepuk bahu Desy. “ah,tidak…aku hanya merasa iba kepada anak itu.” sambil menunjuk ke arah anak penyapu jalan tersebut.

Aku merasa iba kepada anak itu,kasian sekali dia di pagi-pagi buta seperti ini dia sudah harus bekerja mencari uang sebagai penyapu jalan.” sambung Desy.

Iya juga sih. aku merasa kasian terhadap anak itu..” kata Melinda. “Hei, kalian dari tadi sedang membicarakan apa?” tanya Astari

Begini ceritanya Desy merasa iba terhadap anak penyapu jalan itu.” jawab Melinda.
lalu Astaripun melihat ke anak itu, lama sekali Astari memerhatikan anak itu dan sepertinya Astari mengenal wajah anak tersebut.

Ada apa,Astari?” tanya Melinda dengan heran. “uhm…anak itu adalah anak teman ibuku.” jawab Astari

Eh,yang benar kamu?” tanya Desy dengan tidak yakin. “Benar. Namanya adalah Pratiwi. keluarganya hidup serba kekurangan. ibuku seringkali memberi mereka makanan dan baju.”

Memang orang tua Pratiwi bekerja sebagai apa?” tanya Desy lagi. “ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan sedangkan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. ibuku bilang gaji mereka begitu kecil sehingga untuk membiayai sekolah Pratiwi tidak bisa.” kata Astari dengan sedih.

Jadi dia putus sekolah?” tanya Desy “iya…” jawab Astari

“dan lagi pula dia adalah anak yang pintar.” kata Astari “sangat disayangkan anak sepintar dia harus putus sekolah.” kata Melinda dengan sedih
“hei, bagaimana kalau kita membantu dia?” usul Desy “boleh saja,tapi bagaimana caranya?” tanya Melinda.