Aku Pasti Bisa

Vina namanya, orangnya cantik dan cerdas, hobinya adalah memasak, berkebun dan belajar, dirumahnya, banyak sekali ada kebun, malah ia mempunyai kebun yang luas dirumah neneknya.
Kebun milik Vina ada berbagai macam sayur-sayuran dan buah-buahan seperti terong, bayam, wortel, apel, jeruk dan lain-lainnya.

Suatu hari ia mencoba memasak sayur kangkung untuk neneknya di desa.
“Bunda, bagaimana cara memasak sayur kangkung?” tanya Vina pada bundanya.
“Ehmm, kangkungnya dimasak dulu, setelah itu, kamu membuat sambal tomat, dan masukkan kangkungnya pada sambal tomatnya, lalu selesailah! Maaf nak, kali ini bunda tidak bisa menemani kamu memasak, bunda akan ke supermarket membeli tofu,” ujar bundanya.

“Ya, sudah! Terima kasih, ya, bunda!” balas Vina pada bundanya.
Vina pun mencoba membuat sayur kangkung itu, dengan perlahan-lahan ia mengulak cabai dan tomatnya, agar menjadi sambal tomat.
Taraaa! Jadilah sayur kangkung buatan Vina, ia memanggil Vani, adik perempuannya untuk mencicipi sayur buatannya.
“Dik Vani, cicipin sayur buatan kakak dong!” tawar Vina.
“Oke, deh!”

Vani pun mencicipi sayur itu, namun apa hasilnya…
“Uwekk, maaf kak! Sayurnya hambar, kalau mau tahu lagi, tanya sama ayah ya!” jawab Vani yang terlihat tidak senang.
Huhh, kenapa tidak enak, ya? Gerutu Vina dalam hati.
Vina pun mencari ayahnya, dan ayahnya pun mencicipi.
“Ehmm, maaf nak! Sayurnya terasa sangat hambar, mungkin kamu bisa mencoba lain kali! Maaf telah mengecewakan kamu, nak” ujar ayah pada Vina.

Vina yang wajahnya muram pun, pergi ke dapur, dan menaruh sayurnya dan langsung lari menuju kamarnya.
Kamarnya pun dikunci dengan rapat, mungkin karena hal tadi ia menangis.
“Hiks, hiks! Kenapa aku ini selalu gagal?!” ujar Vina sambil menangis.
“Aku menyerah! Aku ingin nenek bangga pada masakan ku kali ini!” kata Vina lagi-lagi mengeluh.
Setelah beberapa menit, akhirnya bunda pulang dari supermarket, dan menemui Vina.
“Vina, ayo keluar! Jangan menangis lagi, ya!” sahut bunda pada Vina.
“Hiks hiks, bunda bisa membantuku untuk memasak sayur lagi?” tanya Vina dari kamarnya pada bunda.
“Tentu bisa, sayang! Ayo keluar!” balas bundanya.