Cerita Rakyat & Legenda

“Jika ada satu hal yang dapat Ananda lakukan untuk Ayahanda, hal itu adalah mengakhiri penderitaan Ayahanda. Tetapi tahukah Ibunda, bahwa hal itu akan sangat menyakiti hatiku? Ananda tidak sanggup memotong bagian tubuh Ayahanda, Ibunda.”

“Oh, Dimitri putraku sayang. Ibunda tahu betapa hal itu akan sangat menyakiti hatimu. Tetapi coba pikirkan penderitaan yang telah dan akan diderita oleh Ayahandamu apabila engkau tetap berpegang teguh pada lembut hatimu. Seringkali rasa cinta adalah melakukan yang terbaik bagi orang yang kita kasihi, bukan yang terbaik bagi kita meskipun hal itu akan sangat menyakitkan bagi kita.”

Setelah berpikir mendalam dan melihat kondisi ayahnya dengan mata kepalanya sendiri, Dimitri menyadari bahwa akan lebih menyiksa bagi ayahnya jika ia tetap pada lembut hatinya. Hingga suatu hari telah bulatlah tekad Dimitri hingga ia memanggil ketiga adik dan ibunya untuk menyampaikan keputusannya pada mereka semua, kemudian bersama-samalah mereka menemui Sang Raja di kediamannya.

“Ayahanda, sungguh sedih hatiku karena harus menjadi orang yang melakukan hal ini kepada Ayahanda yang sesungguhnya sangat aku hormati dan sayangi. Tetapi hatiku jauh lebih sakit lagi jika terus melihat Ayahanda berada dalam penderitaan yang tak terkira ini. Segala yang Ananda dan adik-adik lakukan hanyalah demi kebaikan Ayahanda semata. Oleh karena itu, kami hanya akan memotong jari kelingking Ayahnda. Semoga dengan kebaikan Tuhan, Ayahanda mendapatkan yang terbaik.”

Mendengar perkataan anaknya Sang Raja hanya dapat mengedipkan matanya yang basah oleh airmata sebagai tanda persetujuan, ungkapan maaf, terima kasih dan campuran emosi lainnya yang tidak sanggup ia tunjukkan. Setelah berkata demikian, Dimitri pun memotong kelingking Sang Raja dan dilanjutkan oleh ketiga adiknya terhadap kelingking ayah mereka yang lain. Selanjutnya, kelingking-kelingking itupun mereka bawa masing-masing ke arah empat penjuru mata angin dan dijatukan di empat tempat yang berbeda.

Dari keempat tempat yang menjadi tempat jatuhnya kelingking Sang Raja, jika dihubungkan maka terbentuklah sebuah daerah yang subur dan kemudian dihuni oleh banyak orang. Lokasi ini kemudian terus berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan sejahtera. Berdasarkan asal usulnya desa ini seharusnya bernama desa Kelingking, tetapi karena masyarakat daerah ini memiliki kesulitan dalam melafalkan “L” maka desa ini berkembang menjadi desa Kemingking yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Desa Kemingking Luar dan Desa Kemingking Dalam yang sekarang merupakan bagian dari kecamatan Taman Rajo, kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Dikutip dari cerita rakyat masyarakat sekitar Desa Kemingking dengan perubahan dan gubahan seperlunya
Kontribusi dari Prawitri Thalib [pwi_fansclub @yahoo.com]